Surabaya (beritajatim.com) – Permohonan pengurusan paspor di Kota Surabaya mencatatkan peningkatan signifikan hingga mencapai 10 hingga 20 persen dibandingkan hari biasa menjelang penutupan tahun 2026.
Lonjakan permohonan tersebut tercatat secara mendasar di Unit Layanan Paspor (ULP) Kantor Imigrasi yang beroperasi di pusat perbelanjaan BG Junction Surabaya.
Kepala Seksi Dokumen Perjalanan Imigrasi Juanda, Gelar Handoko, memaparkan bahwa tren kenaikan pembuat paspor sudah menunjukkan pergerakan sejak libur sekolah Juli lalu dan akan mencapai puncaknya pada periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta musim umrah.
Meskipun memasuki periode peak season hingga Desember mendatang, Gelar memastikan daya tampung operasional ULP Imigrasi BG Junction tetap terlayani dengan stabil sesuai ketersediaan alokasi kuota harian.
“Untuk kuota Unit Layanan Paspor Imigrasi BG Junction sendiri, kita membuka 210 kuota. Namun per harinya, rata-rata kita melayani sekitar 80 sampai 150 permohonan paspor,” ujar Gelar Handoko pada Sabtu (31/10/2026) di Surabaya.
Seiring penerapan kebijakan baru, seluruh fasilitas penerbitan paspor di wilayah hukum Surabaya kini telah beralih penuh ke paspor elektronik (e-paspor), sehingga permohonan paspor non-elektronik resmi dihentikan.
Tren destinasi favorit masyarakat Surabaya dan sekitarnya masih mendominasi rute kawasan Asia Tenggara serta Asia Timur untuk agenda liburan keluarga, perjalanan ibadah, hingga pengobatan medis.
“Tujuan favorit masyarakat biasanya ke Singapura dan Malaysia untuk wisata atau berobat. Selain itu, adanya penerbangan langsung dari Surabaya ke China dan Hong Kong juga mendorong tingginya perjalanan ke kawasan Asia Timur,” tutup Gelar Handoko. [way/ian]






