Mojokerto (beritajatim.com) – Meski pemerintahsecara resmi telah mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), namun roda perekonomian belum sepenuhnya kembali normal. Ini dirasakan salah satu pengrajin kue keranjang, Atik Susiana Wati Elisa (47).
Jelang perayaan Imlek 2023, warga Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini mengaku masih sepi pesanan. Istri Ronald Eduward (52) ini mulai memproduksi kue keranjang yang merupakan salah satu perlengkapan sembahyang saat Imlek sejak Senin (9/1/2022) kemarin.
“Sudah mulai produksi sejak seminggu lalu, dua minggu jelang Imlek sudah produksi. Baru produksi 50 kilogram atau 200 biji lebih kue keranjang. Pesanan dari Surabaya, dua kali kirim Surabaya. Masih tetap kayak tahun kemarin, iya (PPKM dicabut) tapi kayaknya masih sama (pesanan sedikit),” ungkapnya, Sabtu (14/1/2023).
Ibu dua anak ini menuturkan, jika pesanan kue keranjang yang dia terima menurun sejak pandemi melanda. Meski di 2022 ada sedikit peningkatan, ia memprediksi tahun ini jumlah pesanan kue keranjang masih sama.
“Iya tahun 2020 itu, pandemi langsung turun. Tidak sampai separuh, ya sekitar 25 persen dari sebelum pandemi. Ini berlangsung sampai tahun 2021 dan baru naik kemarin sekitar 10-15 persen tapi tahun ini kayaknya masih sama dengan tahun kemarin,” katanya.
Menurutnya, alasan berkurangnga kue keranjang di tempatnya lantaran banyak masyarakat yang merayakan Imlek mengurangi jumlah pesanan. Sehingga hal tersebut berimbas pada produksi kue keranjang di tempatnya.
“Kalau biasanya pesan 5 biji, sekarang hanya 2 biji. Kadang ada yang berpikiran tidak ikut sembahyang, jadi pesan hanya untuk dimakan sendiri atau diantar ke saudara. Iya masih ada tapi berkurang. Ini pesanan banyak ada di tanggal 18-19, tanggal 18 ada 200 biji dan tanggal 19 ada 300 biji,” ujarnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Mojokerto”]
Pemesan kue keranjang produksi home industri usaha turun temurun dari sang nenek milik Elisa ini datang dari berbagai kota di Jawa Timur. Paling banyak konsumen yang memesan kue keranjang buatannya yakni dari Kota Surabaya dan Malang. Ia juga menerima pesanan dari di pedagang.
“Iya ada, beli kemudian dijual lagi. Jadi saya tidak tahu dijual kemana. Iya sudah ada langganan tetap karena kue keranjang ini adanya pas Imlek, setahun sekali. Di toko tidak ada kalau tidak pesan. Untuk harga masih sama dengan tahun kemarin,” tuturnya.
Kue keranjang tersebut merupakan usaha turun temurun dari sang nenek. Almarhum kakek dan neneknya merupakan asli China sehingga resep kue khas Imlek itu dibawa dari China sekitar 70 tahun lalu. Untuk memenuhi pesanan, ia dibantu dua karyawan.
Padahal sebelum pandemi, ada lima karyawan yang membantu memproduksi kue keranjang dengan pesanan hingga lebih dari 200 per hari. Mengutip Wikipedia, disebut kue keranjang karena kue ini dicetak menggunakan cetakan berbentuk keranjang.
Kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula ini mempunyai tekstur kenyal dan lengket. Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib saat perayaan tahun baru Imlek. Kue keranjang digunakan sebagai salah satu perlengkapan sembahyang saat Imlek. [tin/beq]







