Surabaya (beritajatim.com) – Semburan gas metana di Sungai Rungkut Madya, Gunung Anyar, Surabaya, bukanlah peristiwa tunggal, melainkan manifestasi dari kondisi geologi kuno wilayah tersebut.
Ahli geologi menegaskan bahwa fenomena ini bersifat alamiah dan erat kaitannya dengan sejarah sedimentasi laut dangkal di masa lalu, serta keberadaan Gunung Anyar Mud Volcano.
Ahli Geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Dr. Handoko Teguh Wibowo menjelaskan bahwa kemunculan gas Metana dangkal (biogenic shallow gas) di lokasi tersebut didukung penuh oleh struktur geologi.
“Daerah Surabaya, terutama Rungkut, Gunung Anyar dan sekitarnya, mempunyai sejarah geologi berupa laut dangkal atau lingkungan delta,” ungkap Handoko.
Proses pengendapan dan sedimentasi yang cepat di lingkungan ini menghasilkan endapan sisa makhluk hidup (biogenic) yang terawetkan dan terurai oleh bakteri menjadi gas atau minyak bumi.
Handoko menjelaskan bahwa struktur geologi di Gunung Anyar yang berbentuk anticlinal (antiklin) memungkinkan gas dangkal ini terakumulasi. Semburan gas Metana yang muncul saat ini adalah salah satu manifestasi dari kondisi bawah permukaan tersebut.
Keterkaitan fenomena ini dengan geologi lokal semakin kuat karena lokasinya yang dekat dengan struktur serupa.
“Bila kita bergeser sekitar 500 meter ke arah timur dari lokasi keluarnya gas metana, kita akan menjumpai gunung lumpur (mud volcano) atau sering dinamakan Gunung Anyar Mud Volcano,” jelasnya.
Handoko juga memastikan semburan ini bukanlah aktivitas geotermal, karena tidak adanya ciri-ciri seperti peningkatan suhu, konsentrasi gas belerang tinggi, atau uap air (steam). Selain itu, semburan ini juga dipastikan bukan berasal dari kebocoran pipa gas PGN.
Meskipun fenomena alamiah, risiko bahaya tetap mengintai. Handoko mengingatkan, bahaya utama dari keluarnya gas Metana adalah potensi kebakaran dan bersifat eksplosif jika gas terperangkap dan tersulut api. Meskipun risiko ledakan tinggi jarang terjadi karena Metana bersifat ringan dan cepat lepas ke udara bebas.
Untuk penanganan, IAGI mendesak Pemda segera melakukan tindakan pencegahan. “Lakukan police line agar warga tidak mendekat, dikhawatirkan ada gas beracun ikutan yang keluar,” pungkasnya.
Ia juga menyarankan agar dibuat jalur pelepasan gas ke atas jika semburan membesar. Semburan alamiah ini diperkirakan akan berkurang tekanannya dan menghilang seiring waktu. [ipl/ted]






