Bojonegoro (beritajatim.com) – Dalam membangun Kabupaten Bojonegoro yang berbasis aspirasi, pasangan calon bupati dan wakil bupati Setyo Wahono-Nurul Azizah berjanji akan membuka ruang publik untuk menyerap aspirasi masyarakat.
Ruang aspirasi sebagai janji politik kandidat Pilkada Bojonegoro 2024 nomor urut 02 itu mendapat tanggapan baik. Menurut salah seorang warga Kelurahan Ledokkulon, Yusuf, komunikasi dua arah antara pejabat dan masyarakat amat penting.
Ini bertujuan agar berbagai intervensi positif dari pemerintah, bisa diimplementasikan berbasis kebutuhan. Kurangnya komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat, berdampak pada tidak jelasnya program dari pemerintah.
Ini terjadi karena intervensi dan penindakan bukan karena kebutuhan, tapi karena penyesuaian anggaran. Hal ini tentu patut untuk diperbaiki. Dia merasa, lima tahun belakangan, komunikasi antara pemerintah dan masyarakat seperti tidak pernah ada.
“Nah, ini dampaknya program pembangunan seperti tidak diperuntukkan masyarakat. Sebab, fungsinya tidak jelas,” ujarnya, Kamis (24/10/2024).
Yusuf menambahkan, banyaknya taman yang ada di Kota Bojonegoro misalnya, menurut dia, tidak dibangun atas komunikasi yang jelas. Dampaknya, fungsi dan kebermanfaatan yang didapat masyarakat menjadi tidak jelas.
Dia berharap agar ke depan, pemimpin Bojonegoro punya kapasitas yang baik dalam berkomunikasi dengan masyarakat.
Sementara Ketua Partai Demokrat Bojonegoro, Sukur Priyanto mengatakan, pembangunan Bojonegoro harus dilakukan berbasis komunikasi dengan masyarakat. Sebab, jika tidak, maka dampak yang diterima masyarakat tidak jelas.
“Bojonegoro ini kota besar. Harus dipimpin figur yang komunikatif,” Kata Sukur.
Lebih jauh Sukur menjelaskan, selama hampir 5 tahun belakangan, program pembangunan di Bojonegoro terkesan serampangan dan tidak berbasis komunikasi. Dampaknya, intervensi positif dari pemerintah kurang berdampak bagi masyarakat.
Karena itu, dia mengimbau agar masyarakat lebih memilih paslon yang punya kemampuan komunikasi dan mendengar dengan baik.
“Mas Wahono dan Bu Nurul sangat komunikatif. Bahkan, mereka juga menyiapkan program-program yang berbasis komunikasi dua arah. Contohnya adalah program SapaBupati,” jelasnya.
Sementara Setyo Wahono, dalam program unggulannya, memprioritaskan komunikasi dua arah. Bahkan, paslon no 02 menjadikan komunikasi dua arah sebagai program khusus, yaitu Saluran Aspirasi dan Pengaduan untuk Bupati (SapaBupati).
Program SapaBupati merupakan medium pengaduan/aspirasi publik. “Ini agar Bupati bisa berkomunikasi langsung dengan masyarakat,” kata Setyo Wahono
Program SapaBupati diintegrasikan dengan perencanaan pembangunan daerah. Sehingga perencanaan dilakukan berbasis aspirasi dan pengaduan warga. Wahana SapaBupati, menurut dia, didukung mekanisme penanganan pengaduan jelas dan terukur, serta adanya Tim Respon Cepat-Tanggap. [lus/aje]






