Surabaya (beritajatim.com) – Bullying bisa dikatakan sebagai manifestasi dari konsep diri yang negatif. Dimana Bullying dapat dicirikan sebagai tindakan yang disengaja untuk menyakiti orang lain, dilakukan secara berulang, dan disertai dengan perbedaan kekuatan atau kekuasaan.
Bullying adalah pola perilaku, bukan hanya insiden kebetulan yang terjadi berulang kali. Karena seorang pem-bully memang memiliki niat untuk menyebabkan rasa sakit kepada korban. Baik rasa sakit secara fisik maupun psikis.
Ada fenomena lain mengenai perilaku seorang pem-bully terhadap korbannya. Dimana ia dengan sengaja menyakiti korban, tetapi dengan dalih ‘hanya sekadar bercanda’. Padahal apabila ditelisik lebih jauh, sebuah candaan harusnya membuat kedua belah pihak merasa nyaman, bukan justru merasa direndahkan, dihina, dipojokkan, dll.
Pembully-an yang bersembunyi di balik kata ‘bercanda’ ini bisa jadi lebih menyakiti korban daripada dilakukan secara terang-terangan. Karena pelaku bisa saja berasal dari teman terdekat atau keluarga korban yang dipercaya.
Pentingnya selalu ingat, bahwa sesuatu yang kita anggap lucu belum tentu lucu juga untuk orang lain. Bukan karena korban dicap sebagai orang yang ‘baperan’ atau tidak bisa diajak bercanda. Tetapi lebih dari itu, persepsi masing-masing orang berbeda dalam menanggapi candaan.
Maka, untuk mengambil sikap yang tegas dan sebagai pengingat bagi diri sendiri, kita harus mengetahui lebih lanjut mengenai Bullying yang bersembunyi dibalik kata ‘bercanda’ berikut ini:
Bentuk Bullying dengan dalih bercanda
– Toxic masculinity. Biasanya bullying jenis ini terjadi ketika seorang laki-laki menampakkan perilaku yang Identik dengan perempuan.
Contoh: “Jadi laki-laki kok cengeng, mending pakai rok aja, udah cocok.”
– Mengatakan seseorang tidak pantas secara langsung. ketika seseorang diremehkan karena sebuah kekurangan.
Contoh: “Haha, kamu itu enggak cantik, gak cocok sama dia yang ganteng. Takutnya dia cuma khilaf doang.”
– Menghina kemampuan. Apa yang dirasa mudah untuk diri sendiri, belum tentu mudah untuk orang lain.
Contoh: “Yaampun, gitu ajah gak bisa. Kok bisa diterima jadi mahasiswa, sih. Balik SMP ajah sana.”
– Menyindir kesalahan di muka umum. Seseorang yang ditegur atau disebutkan kesalahan di depan umum akan merasa terpojokkan dan dihakimi banyak orang tanpa bisa membela diri.
Contoh: “Gimana, sih nyusahin banget. Kalo telat gak usah ikut ajah. Haha.”
– Menyindir dan menghina fisik, seperti berat badan dan tinggi badan. Kita mungkin tidak tahu bagaimana dia sudah berusaha menurunkan berat badan atau sebabnya. Jangan pernah lakukan ini karena seseorang bisa merasa stress dan tertekan.
Contoh: “Itu badan apa truk molen, bulet banget, wkwk.” Atau “Udah pendek, item, keriting, idup lagi.”
– Pelecehan berkedok pujian. Hal ini biasa terjadi dengan bentuk catcalling dengan kata-kata yang kurang senonoh.
Contoh: “Cewek, cantik banget, yuk nongkrong sama kita.”
– Menyinggung SARA. Isu-isu sensitif seperti suku, ras, agama, dan golongan harus dihindari sebagai bentuk candaan.
Contoh: “Pantes pelit, Cina sih.” Atau “Konservatif banget, sih. Ketahuan kuliahnya di Arab gurun.”
– Meragukan gender. Bukan berarti seseorang berpenampilan tidak seperti umumnya, kita bisa menanyakan dan mempermasalahkannya.
Contoh: “Masak, sih cewek? Kok rambutnya pendek gitu kayak tomboy.”
– Toyor-toyoran kepala, atau jokes fisik lainnya.
Apa yang harus saya lakukan, sebagai korban?
Tidak ada dampak melainkan negatif jika kita menjadi korban bullying. Bahkan dampak yang didapat bisa berkelanjutan (jangka panjang), seperti mengalami masalah kesehatan mental, emosional, termasuk depresi dan gangguan kecemasan.
Jangan takut untuk melakukan aksi pembelaan diri, karena korban bullying memiliki hak atas lingkungan yang aman dan menghargai martabat. Tidak seorangpun diijinkan untuk bersenang-senang atau tertawa di atas ketidaknyamanan, penghinaan dan penganiayaan yang kita terima.
Langkah pertama yang dapat diambil adalah, coba untuk berani mengatakan ketidaknyamanan itu. Katakan secara tegas bahwa kamu merasa tersinggung dan tersudutkan atas perilaku atau perkataan pelaku. Hal ini bisa membuat pelaku berpikir bahwa kamu berharga dan menghargai keputusanmu dalam menjalani hidup.
Langkah selanjutnya, apabila pelaku masih melakukan hal serupa dan belum juga jera, coba untuk melakukan pencegahan. Jauhi pelaku bullying dan minimalkan kontak dengan mereka. Kita tidak bisa mengharapkan seseorang (dalam hal ini pelaku bullying) dapat tersadarkan dan tidak mengulangi perbuatanya hanya karena kita sudah menegurnya. Menjauhi sumber ‘penyakit’ bisa menjadi solusi yang terbaik.
Terkahir dalam hal ini, cobalah untuk melakukan Self Love dan mencari sistem pendukung. Berfokuslah kenapa hal yang berharga pada diri kamu dan kembangkan menjadi sesuatu yang bisa kamu banggakan. Memiliki seseorang yang supportif juga sangat penting untuk menghadapi efek bullying (Unicef Indonesia, Mei 2021).
Kamu bisa mendapatkannya dari orang tua, saudara, teman terdekat, atau bahkan profesional. Jangan ragu untuk menceritakan apa yang telah kamu lalui kepada orang yang tepat, setidaknya meskipun mereka tidak bisa membantu secara riil, beban yang kamu simpan bisa sedikit berkurang. (Kai/ian)






