Ringkasan Berita:
- Lebih dari 300 kader posyandu Banyuwangi mengikuti Jambore Posyandu 2026 di Hutan De Djawatan.
- Program Puspadaya melatih kader perempuan menggunakan data kesehatan untuk pengambilan keputusan desa.
- Pemkab Banyuwangi, Unair, dan Poliwangi memperkuat kolaborasi peningkatan kapasitas kader kesehatan.
- Kader posyandu menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan dasar berbasis teknologi dan data.
Banyuwangi (beritajatim.com) – Ratusan kader posyandu Banyuwangi mengikuti Jambore Posyandu 2026 yang digelar di kawasan wisata Hutan De Djawatan, Kecamatan Cluring, Selasa (12/5/2026), sebagai upaya memperkuat kapasitas kader perempuan dalam pelayanan kesehatan masyarakat berbasis data.
Sebanyak lebih dari 300 kader yang mengikuti kegiatan ini merupakan peserta program Pengambilan Keputusan oleh Perempuan Berdaya (Puspadaya), sebuah kolaborasi strategis antara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Universitas Airlangga (Unair), dan Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi).
Program tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan kader kesehatan desa dalam pengumpulan data, analisis kondisi kesehatan ibu dan anak, hingga pengambilan keputusan berbasis data di tingkat desa.
“Kader adalah ujung tombak pelayanan kesehatan dasar di tingkat desa. Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh kader posyandu yang terus memberikan pelayanan kesehatan pada warga,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Dalam jambore ini, para kader menunjukkan keterampilan mereka dalam penggunaan aplikasi digital kesehatan, presentasi data, konsultasi kesehatan masyarakat, interpretasi data ibu hamil dan balita, serta kemampuan negosiasi kebijakan desa.
Kegiatan ini sekaligus menjadi evaluasi implementasi program Puspadaya yang sejak Juni 2025 telah melatih 208 kader di sejumlah desa, termasuk Desa Tampo, Sraten, Sembulung, dan Benculuk.
“Lewat kegiatan ini, kami berharap kapasitas para kader semakin meningkat. Kualitas dan kuantitas keterlibatan kader perempuan dalam pengambilan keputusan tingkat desa juga semakin meningkat,” ujar Ipuk.
Pada momentum tersebut, juga dilakukan penandatanganan kerja sama lanjutan antara Pemkab Banyuwangi, Unair, dan Poliwangi terkait penguatan sistem integrasi data kesehatan desa.
Sistem ini diharapkan mampu memperkuat pelayanan kesehatan preventif, program gizi, dan pemantauan ibu hamil maupun balita secara lebih akurat.
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menyebut jumlah kader posyandu di Banyuwangi saat ini mencapai lebih dari 13 ribu orang, menjadikan peran mereka sangat strategis dalam mendukung layanan kesehatan masyarakat hingga tingkat akar rumput.
“Jambore Kader Posyandu kita laksanakan setiap tahun untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi kader dalam pelayanan,” pungkasnya. [alr/beq]






