Bojonegoro (beritajatim.com) – Perum Perhutani Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bojonegoro menyebut terdapat kurang lebih 100 hektare lahan hutan yang terbakar hingga pertengahan Agustus 2023. Peristiwa kebakaran hutan dan lahan itu ditakutkan berdampak pada pipa migas yang melewati kawasan hutan, Senin (28/08/2023).
“Sempat melakukan komunikasi dengan pihak Pertamina dan EMCL (pengelola pipa migas) tetapi belum sampai untuk kerjasama patroli bareng di jalur pipa yang ada di kawasan hutan,” ujar ADM KPH Perhutani Bojonegoro, Irawan.
Area Perhutani KPH Bojonegoro yang dilalui pipa minyak dan gas bumi (migas) ini kata dia, cukup panjang. Namun, ia tidak mengetahui pasti berapa luasan hutan yang dilalui pipa migas. Sebab, dalam kawasan hutan sendiri, selain dikelola oleh KPH Bojonegoro juga terdapat kawasan hutan (penunjukan dari kementerian kehutanan).
“Status tanahnya kawasan hutan (penunjukan dari kementerian) penggunaan dengan rekomendasi kementerian kehutanan. Kalau tanah serifikat (milik perhutani cq KPH Bojonegoro) bisa sistem sewa,” terangnya.
Untuk diketahui, pipa migas dari Lapangan Banyu Urip yang dioperatori ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) ini membentang sejauh 72 km di darat yang berada di Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, serta sepanjang 23 km di laut. Pipa ditanam hingga sedalam 2 meter di dalam tanah, melintasi 56 desa dan 11 kecamatan.
Selain itu juga ada pipa Lapangan Kedung Keris sepanjang 15 km dari Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu menuju Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Pipa ini juga ditanam ke dalam tanah dan melewati persawahan, ladang, melintasi sungai dan jalan, serta ada juga yang berdekatan dengan pemukiman. Sehingga kedua pipa ini memungkinkan untuk terpapar oleh aktivitas manusia.
Security Superintendent ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Harry K Dianto, mengatakan bahwa timnya sebagai ujung tombak pengamanan Obvitnas EMCL senantiasa menerapkan nilai-nilai keselamatan sebagai bagian dari budaya bekerja sehari-hari serta secara humanis mengingatkan akan potensi bahaya sehingga masyarakat terbangun kesadarannya dan ikut mendukung upaya EMCL dalam menjaga keamanan serta keselamatan di jalur pipa.
“Berkat dukungan masyarakat, kami bisa bekerja dengan aman dan selamat,” ujar Harry dalam pers rilis yang diterima beritajatim.com.
Dalam memastikan keselamatan dan keamanan jalur pipa minyak itu, EMCL memiliki tim petugas keamanan pipa yang berjalan menyusuri pipa sepanjang 72 km dan 15 km tersebut. Salah satunya yakni Muhammad Ali (53) warga Desa Leran Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro bersama 24 rekannya yang lain.
Mereka menyusuri jalur pipa untuk memastikan papan penanda bahaya berfungsi dengan baik. Serta mengingatkan warga yang berpapasan di jalur pipa. Harapannya, warga terhindar dari aktivitas membahayakan seperti melakukan aktivitas membakar di atas lahan pipa, menanam pohon berakar tunggak, melakukan penggalian dengan alat berat, menggunakan kendaraan berat melintasi jalur pipa, dan lain-lain.
Terdapat beberapa tim dalam sekali jalan, sehingga pengawasan oleh petugas bisa menjangkau seluruh lintasan pipa secara bersamaan. “Medan yang kita lalui penuh tantangan, bahkan tidak jarang kita menemui hewan berbahaya seperti ular serta cuaca, baik panas terik maupun hujan selama bertugas,” ucapnya. [lus/kun]
BACA JUGA: KPH Parengan Bojonegoro Tetapkan Darurat Kebakaran Hutan






