Jember (beritajatim.com) – Sidang paripurna DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, dihujani interupsi gara-gara enam legislator Gerindra mengenakan jaket partai, Jumat (31/3/2023) malam. Hujan interupsi membuat sidang paripurna molor dan baru alhasil baru selesai dilaksanakan pada Sabtu (1/4/2023) dini hari pukul 00.30 WIB.
Agenda sidang paripurna tersebut sebenarnya adalah untuk mengesahkan Peraturan Daerah mengenai Sampah dan Peraturan Daerah mengenai Kabupaten Layak Anak. Bupati Hendy Siswanto, Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman, dan jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Jember hadir.
Begitu sidang dibuka pada pukul 21.30, interupsi terjadi karena enam legislator Gerindra hadir dengan mengenakan jaket partai. “Ini tidak lazim dan jadi persoalan. Selama ini tidak pernah ada atribut partai dalam sidang paripurna,” kata Nur Hasan, anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera.
Nur Hasan kemudian memutuskan untuk mengenakan jaket PKS berwarna oranye. Protes dan silang pendapat pun terjadi hingga hampir satu jam. Wakil Ketua DPRD Ahmad Halim yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Jember kemudian meminta agar jaket itu dilepas dan diganti dengan pakaian resmi.
Namun para legislator Gerindra menolak. “Memang ini sudah marwah bagi kami. Tidak bisa, meskipun ketua minta untuk ganti. Kami menganggap partai ini adalah marwah kami ya kami bertahan,” kata Ketua Fraksi Gerakan Indonesia Berkarya Hasan Basuki, usai sidang.
Ketua Badan Kehormatan Hamim mempersoalkan dikenakannya pakaian yang tidak sesuai tata tertib tersebut. Nur Hasan yang malam itu mengenakan baju lengan pendek kemudian memutuskan keluar dari ruang sidang. “Saya kasih contoh kepada Gerindra agar mau melepas jaketnya. Jaket saya sudah saya lepas. Begitu saya keluar tambah runcing di dalam,” katanya.
Akhirnya, legislator Gerindra memilih keluar ruang sidang paripurna. “Pada akhirnya kami berpikir unruk kepentingan masyarakat Jember yang lebih besar. Kalau sampai paripurna gagal, ya tidak enak juga. Akhirnya kami sepakati untuk berganti pakaian,” kata Hasan Basuki.
Tidak semua legislator Gerindra kembali ke ruang sidang. Mereka yang berpakaian formal kembali ke ruang sidang. Sementara Hasan Basuki memilih tidak kembali karena tidak mengenakan pakaian formal. “Tapi kan mengikuti paripurna sampai selesai,” katanya.
Nur Hasan tidak bisa memahami maksud tindakan para legislator Gerindra. “Saya tidak paham ada agenda apa. Ini kekagetan semua orang. Bukan saya saja. Saya kebetulan saja bawa jaket PKS di mobil. Akhirnya saya protesnya pakai jaket itu,” katanya.
Hasan Basuki mengatakan, pemakaian jaket itu spontanitas. “Tidak ada rencana dari awal, karena momennya beberapa bulan kemarin Gerindra ulang tahun. Kami mau foto bersama sehabis paripurna. Pernah juga kita tahu ada fraksi yang pakai lambang partainya. Jadi kami tidak dengan sengaja membuat kegaduhan,” katanya.
Nur Hasan menyayangkan tindakan para legislator Gerindra yang mengenakan jaket partai dalam sidang paripurna. “Selama ini tidak pernah ada anggota DPRD Jember yang pada saat paripurna memakai atribut partai. Ini yang kami ingatkan supaya tak jadi awal yang buruk,” katanya.
Nur Hasan meminta agar kebersamaan yang sudah dibangun tidak dicederai. “Sesuatu yang tidak lumrah terjadi malam ini. Jangan sampai ini terulang lagi. Tadi disepakati tidak ada lagi atribut-atribut partai masuk ke paripurna,” katanya.
Hasan Basuki percaya kegaduhan malam itu tidak akan mengganggu harmoni di parlemen. “Tidak akan sampai ke sana. Tapi ke depan harus tertib semua. Kalau teman-teman minta kami tertib, semuanya harus tertib,” katanya.
“Kalau saat paripurna pengambilan keputusan, kita harus mengenakan PSL (Pakaian Sipil Lengkap), yakni pakaian lengan panjang safari dan kopiah. Tapi kan banyak teman-teman anggota fraksi lain yang juga tidak sesuai tata tertib walau tak ada atribut partai. Ada yang pakai PDH (Pakaian Dinas Harian) dan PSH (Pakaian Sipil Harian),” kata Hasan.
Hasan mengatakan, sejak dulu anggota DPRD Jember yang tidak mengenakan pakaian sesuai tata tertib dibiarkan dengan alasan kebersamaan. Dia meminta kepada seluruh anggota DPRD Jember agar lebih berhati-hati dalam bertindak ke depan. “Kalau nantinya ada teman-teman yang melanggar tata tertib, akan kami permasalahkan,” katanya. [wir]






