Surabaya (beritajatim.com)– Maba (mahasiswa baru) seringkali merasa antusias dan penuh tanda tanya tentang bagaimana rasanya mengenyam pendidikan di perkuliahan nantinya. Hal ini dikarenakan budaya kampus yang berbeda dengan budaya sekolah. Maka dari itu, muncul istilah “Kupu-Kupu” dan “Kura-Kura” yang sudah tidak asing lagi bagi Maba ketika akan memilih kehidupan perkuliahan. Pemikiran tersebut muncul dan menjadi dilema tersendiri bagi Maba karena ini merupakan kali pertama mereka masuk ke perguruan tinggi.
Apa itu Kupu-Kupu dan Kura-Kura ?
Dalam dunia perkuliahan, istilah Kupu-Kupu merupakan kepanjangan dari Kuliah Pulang-Kuliah Pulang. Istilah ini menjadi semacam panggilan untuk mahasiswa yang kegiatannya selama perkuliahan hanya berkuliah dan langsung pulang tanpa ada kegiatan selingan lainnya. Padahal, masih banyak kegiatan lain yang dapat diikuti selama menjadi mahasiswa.
Sedangkan istilah Kura-Kura merupakan kepanjangan dari Kuliah Rapat-Kuliah Rapat. Istilah ini merupakan panggilan untuk mahasiswa yang aktif mengikuti organisasi di kampus. Dengan mengikuti organisasi, kegiatannya selama di kampus tidak hanya berkuliah saja, melainkan juga menjalankan rapat untuk kepengurusan organisasi.
Kelebihan dan Tantangan
Memilih menjadi Kupu-Kupu atau Kura-Kura tentunya memiliki kelebihan dan tantangannya tersendiri.
Mahasiswa yang memilih menjadi Kupu-Kupu cenderung lebih fokus dengan mata kuliah yang didapatkan di perkuliahan. Tidak adanya distraksi lain menjadikan mahasiswa Kupu-Kupu dapat menguasai materi perkuliahan secara menyeluruh. Tugas perkuliahan juga dapat dikerjakan dengan baik dan tidak ada distraksi yang lain.
Tetapi, beberapa orang berpendapat bahwa memilih menjadi Kupu-Kupu di kehidupan kampus merupakan hal yang sangat disayangkan. Dunia kampus yang lebih luas dari pada dunia sekolah seharusnya menjadi tempat untuk mengembangkan diri dan menguasai keahlian lain selain hanya belajar di kelas. Stigma bahwa berkuliah merupakan bekal bagi kehidupan karir nantinya juga sangat melekat, sehingga menjadi mahasiswa Kupu-Kupu rasanya kurang cukup bagi sebagian orang.
Maka dari itu, sebagian dari mereka memilih untuk menjadi mahasiswa Kura-Kura. Mengikuti organisasi dirasa bermanfaat untuk menambah pengalaman dan melatih keahlian sebagai seorang pemimpin. Beberapa softskill juga secara tidak langsung diasah dengan mengikuti organisasi.
Namun kadang kala, mahasiswa yang memilih menjadi Kura-Kura cenderung sulit untuk menyeimbangkan kegiatan akademiknya. Manajemen waktu antara tugas perkuliahan dengan tugas organisasi harus benar-benar dijaga.
Mending Mana?
Menjadi mahasiswa Kupu-Kupu dan Kura-Kura memang memiliki kelebihan dan tantangannya tersendiri. Akan tetapi, semuanya kembali pada komitmen individu masing-masing. Jika mahasiswa memilih menjadi mahasiswa Kupu-Kupu, maka mahasiswa harus berkomitmen untuk selalu mengerjakan tugas kuliahnya. Namun, jika mahasiswa memilih menjadi mahasiswa Kura-Kura, maka mahasiswa harus berkomitmen untuk mengembangkan diri sebaik mungkin dan mampu memanajemen waktu dengan baik.
Cara paling ampuh adalah dengan membagi masa perkuliahan per semesternya. Misalnya, jika di semester 1-2 kamu memilih menjadi mahasiswa Kupu-Kupu, maka di semester 3-4 kamu harus menjadi mahasiswa Kura-Kura. Hal ini mendorong kamu merasakan semua jalan di dunia perkuliahanmu.
Jadi, kamu mau menjadi mahasiswa Kura-Kura atau Kupu-Kupu?
[Nazala Habibah Fathyadin]






