Penang (beritajatim.com)– Masalah sendi lutut menjadi tantangan serius bagi banyak orang, terutama yang memasuki usia lanjut. Salah satu kondisi yang sering terjadi adalah osteoartritis (OA), yang dapat menyebabkan rasa sakit dan keterbatasan dalam beraktivitas. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.
“Kaum perempuan lebih banyak mengalami masalah sendi lutut disebabkan kekurangan hormon estrogen semasa menopause. Hormon ini yang mendorong tulang rawan,” ungkap Spesialis Bedah Ortopedi di Island Hospital Penang, Malaysia, Prof. Dato’ Dr. Oh Kim Soon.
Menurut penelitian dari Institute for Public Health Belanda, prevalensi OA lutut pada mereka yang berusia 75 tahun mencapai 50 persen, dan pada usia 45 tahun ke atas, prevalensinya adalah 19,2 persen.
Di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 55 juta orang menderita penyakit sendi, dengan kelompok usia 55 hingga 64 tahun tercatat 45% di antaranya mengalami OA.
“Penting sekali mengenali gejala dan melakukan skrining sendi lutut sejak dini,” tambah Dr. Oh Kim.
Di tengah tingginya angka penderita OA, teknologi medis kini menawarkan solusi yang lebih tepat dan efisien. Island Hospital di Penang, Malaysia, menjadi pionir dalam penerapan teknologi robotik dalam bidang ortopedi.
Dr. Oh Kim menyebutkan bahwa teknologi robotik seperti ExcelsiusGPS, ROSA, dan Velys dapat meningkatkan ketepatan dalam operasi tulang belakang dan penggantian sendi.
“Robotik untuk OA membantu pasien mendapatkan tindakan operasi yang lebih tepat dan presisi,” jelasnya.
Sementara itu, CEO Island Hospital Ms Lim Kooi Ling juga mengungkapkan bahwa teknologi robotik menjadi pilihan utama bagi pasien, termasuk dari Indonesia, yang hampir mencapai 50 persen dari total pasien rumah sakit tersebut. Bedah robotik menggabungkan kecerdasan buatan, visualisasi 3D, dan lengan robotik presisi tinggi untuk memungkinkan dokter melakukan operasi dengan lebih akurat.
“Sayatan lebih kecil, perdarahan minimal, serta pemulihan yang lebih cepat menjadi manfaat utama dibandingkan bedah konvensional,” paparnya.
Keunggulan teknologi ini juga terlihat dalam pemulihan pasien. Pasien yang menjalani operasi dengan bantuan robotik dapat pulang lebih cepat dibandingkan dengan prosedur konvensional, karena waktu operasi yang lebih singkat dan luka irisan yang lebih kecil.
“Setelah operasi robotik, pasien bisa pulang dengan lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak, disebabkan waktu operasi yang lebih singkat dan luka irisan yang lebih pendek,” ujar Lim Kooi Ling.
Island Hospital tidak hanya unggul dalam bidang ortopedi, tetapi juga dalam bidang bedah urologi. Teknologi robotik seperti sistem da Vinci Xi dan Mona Lisa digunakan untuk prosedur sensitif seperti operasi prostat dan ginjal.
Dokter Sritharan, Spesialis Urologi di Island Hospital, menjelaskan bahwa teknologi ini memungkinkan dokter untuk melakukan prosedur dengan presisi yang tinggi, menghindari kerusakan saraf yang sensitif, serta mengurangi risiko perdarahan.
“Dengan teknologi ini, kami dapat melakukan operasi prostat lebih presisi, meminimalkan komplikasi, dan meningkatkan hasil pascaoperasi bagi pasien,” jelasnya.
Dengan segala keunggulannya, Island Hospital terus menjadi pilihan utama bagi pasien yang membutuhkan penanganan medis canggih. Teknologi robotik yang mereka tawarkan tidak hanya meningkatkan akurasi operasi, tetapi juga mempercepat proses pemulihan pasien, memberikan harapan baru bagi mereka yang menderita osteoartritis dan berbagai kondisi medis lainnya.[asg/aje]






