Sidoarjo (beritajatim.com) – Tidak bisa dipungkiri, dibanding Surabaya, saat ini Sepakbola Sidoarjo tengah bangkit. Bahkan bisa dibilang, Sidoarjo mampu menggantikan Surabaya sebagai penyuplai pemain, baik tingkat regional maupun nasional. Hal itu dibuktikan dengan begitu banyak pemain asal Sidoarjo yang melalang buana di beberapa klub profesional hingga timnas.
Tentu saja, prestasi itu tidak terlepas dari pembinaan usia dini di Sidoarjo yang dinilai cukup masif. Hampir tiap desa di Sidoarjo, memiliki sekolah sepakbola (SSB). Termasuk diantaranya, kompetisi kelompok umur yang juga rutin digelar, dari turnamen hingga kompetisi resmi PSSI.
Dan salah satu tonggak munculnya SSB di Sidoarjo yang kian menjamur, adalah SSO Realmadrid Foundation yang saat ini berubah nama menjadi Indonesia Soccer Academy (ISA).
Namun sayangnya, ISA yang sudah menelurkan banyak pemain ke timnas U-15/U-18 seperti Imam Faudji, Januarius Toa Meka, Marcelino Ferdinan Marcel Januar Putra, Arsa Ramadhani Ahmad hingga Brylian Aldama yang bermain di Kroasia, kini merasa dipinggirkan dari tempat berlatih yakni di Stadion Jenggolo Sidoarjo.
Imam Syafii, pemilik sekaligus penanggung jawab ISA, merasa wadah pembinaan yang dikelolanya seakan dipinggirkan. Hal itu dilihat dari jadwal penggunaan Stadion Jenggolo yang kian hari terpangkas.
“Saya bisa memahami jika jadwal latihan kita digunakan oleh tim yang tujuannya prestasi, baik itu timnas, profesional atau amatir. Tapi yang saya lihat, beberapa jadwal latihan kita malah digunakan oleh komunitas yang hanya sekedar cari keringat, tapi mampu membayar sewa lapangan lebih mahal. Sedangkan kita, ini kan untuk pembinaan,” jelasnya sembari mengungkapkan bila pihaknya pun tidak pernah menunggak terkait pembayaran sewa lapangan.
Ditambahkan Imam, sejak 2011, jadwal ISA menggunakan Stadion Jenggolo adalah Rabu, Sabtu (14.00–17.00) dan Minggu (06.00–10.00). Jadwal tersebut selanjutnya berubah menjadi Rabu (18.30–20.30) dan Jumat-Sabtu (15.00–17.00). Dalam perjalanan waktu, jadwal itu sering berubah sesuai dengan jadwal yang ditentukan pengelola. Bahkan kini, dari tiga kali seminggu, menjadi dua kali seminggu (Senin dan Rabu pukul 15.00–17.00). Terakhir, dari dua kali seminggu menjadi sekali (Senin 15.00–17.00).
Sementara menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Sidoarjo, Djoko Supriyadi menjelaskan bahwa sebenarnya tidak hanya jadwal ISA saja yang tergeser untuk menggunakan Stadion Jenggolo.
“Perlu dipahami, kami sebagai pengelola sebenarnya juga kebingungan untuk mengatur jadwal. Karena Stadion Jenggolo sebagai fasilitas umum, penggunaannya sungguh luar biasa dan overload. Jadi kalo bicara soal perubahan dan pergeseran jadwal, sebenarnya bukan cuma ISA saja yang digeser, tapi banyak,” jelasnya.
Namun, lanjut Djoko, melihat hal itu pihak Disporapar Sidoarjo tetap mengakomodir dan memfasilitasi, khususnya yang terkait dengan pembinaan yakni salah satunya dengan menawarkan tempat latihan lain yakni lapangan sepakbola Pucang.
“Jadi, kita (Sidoarjo) ini memiliki tiga lapangan untuk dikelola. Yang pertama Stadion Delta. Stadion Delta itu dikhususkan untuk kegiatan profesional. Lalu Stadion Jenggolo, yang saat ini masih kita atur penggunaannya untuk klub amatir. Kemudian Lapangan Pucang, yang rencananya akan kita jadikan pusat latihan pembinaan, seperti SSB dan lainnya,” jelasnya.
Memang, tambahnya, kondisi Lapangan Pucang tidak sebagus Stadion Jenggolo. “Tapi bertahap kita akan perbaiki pelan-pelan,” ucapnya.
Dan seharusnya, lanjut Djoko lagi, pihak ISA juga memiliki tempat latihan cadangan selain di Stadion Jenggolo. Sehingga, dengan adanya situasi seperti yang dikeluhkan, tidak menjadi persoalan, apalagi sampai menghambat pembinaan. [kun]






