Blitar (beritajatim.com) – Angka anak tidak bersekolah di Kabupaten Blitar masih cukup tinggi di tahun 2023 ini. Tercatat ada sekitar 1.364 anak di seluruh wilayah Kabupaten Blitar yang hingga kini tidak bisa mengenyam bangku sekolah.
Hal itu pun menjadi potret buramnya dunia pendidikan di Kabupaten Blitar. Di tengah upaya pemerintah pusat meningkatkan mutu pendidikan dan teknologi, nyatanya ribuan anak dari berbagai pelosok Kabupaten Blitar masih belum tersentuh sekolah.
“Yang tidak sekolah ini mayoritas berusia 6 hingga 18 tahun,” kata Kepala Bidang Pendidikan SD Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Wiji Asrori, Rabu (03/04/23).
Sebenarnya jumlah anak yang tidak bersekolah di Kabupaten Blitar lebih dari itu yakni 2.071 anak. Namun jumlah tersebut 30 persennya atau 707 anak telah kembali sekolah. Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar pun terus melakukan berbagai upaya untuk mengajak anak-anak di pelosok Blitar sekolah.
Terkait penyebab, Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar menuding bahwa kurangnya motivasi dari orang tua menjadi penyebab utama anak tidak ingin sekolah. Menurut Dindik Kab Blitar, umumnya anak tidak sekolah ini orang tuanya bekerja sebagai buruh migran di luar negeri.
Sehingga perhatian dan dorongan motivasi dari orang tua terhadap pendidikan anak sangat kurang. Hal itulah yang memicu anak-anak usia dini Kabupaten Blitar enggan bersekolah.
“Umumnya anak para TKI, jadi kurang perhatian dan motivasi terhadap pendidikan anaknya, dan kami butuh waktu untuk merayu anak sekolah lagi,” imbuhnya.
Selain itu masih adanya pola pikir dari orang tua mengenai pendidikan tidak menjamin kesuksesan, menambah anak-anak di Kabupaten Blitar menyepelekan pendidikan. Hal itu terlihat konkrit di wilayah Blitar Utara.
Di wilayah yang sebagian besar penduduk hidup dari pertambangan pasir itu, masih banyak dijumpai anak yang memilih bekerja sebagai penambang pasir daripada sekolah. Kegiatan itupun direstui para orang tua.
Faktor kurangnya ekonomi membuat pola pikir masyarakat tentang pentingnya pendidikan semakin kurang. Bagi sebagian besar masyarakat disana pendidikan bukan hal utama yang dibutuhkan untuk anak, namun pendapatan untuk menjamin keberlangsungan hiduplah yang paling utama.
“Mereka berpikir bahwa tidak sekolah pun bisa menghasilkan uang padahal sekolah itu penting mengubah pola pikir, dan mencetak generasi unggul,” tegasnya.
https://beritajatim.com/peristiwa/bantuan-yang-dijanjikan-untuk-korban-ledakan-petasan-blitar-belum-turun/
Terkait fasilitas dan jumlah sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar mengklaim telah mencukupi untuk kebutuhan belajar anak. Adapun jumlah sekolah dasar (SD) di kabupaten Blitar sendiri mencapai 676 lembaga baik Negeri maupun swasta.
Sementara untuk SMP ada 109 lembaga yang berdiri di Bumi Penataran. Jumlah kelulusan siswa sendiri juga terbilang cukup tinggi yakni 24 ribu anak setiap tahunnya baik itu jenjang SD maupun SMP.
Namun nyatanya angka anak tidak bersekolah di Bumi Penataran juga masih tinggi. Untuk itu Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar akan berkoordinasi kembali dengan pihak terkait baik itu Dukcapil maupun Badan Pusat Statistik (BPS).
Hal itu dilakukan untuk memastikan sekaligus menyinkronkan data terkait anak tidak sekolah di Kabupaten Blitar.
” Setelah ini kami akan berupaya untuk mengupdate data tahunan anak kami khawatir data yang diterima BPS itu data lama,” tandasnya. (owi/ted)






