Malang (beritajatim.com) – Tim dosen dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil mencatatkan prestasi dengan lolos dalam Program Inovasi Kreatif Mitra Vokasi yang diselenggarakan oleh Kemendikbud Ristek. Program ini bertujuan untuk mengembangkan teknologi tepat guna dalam mendukung inovasi vokasi melalui peningkatan kualitas produksi kopi di Desa Sumberdem, Kabupaten Malang.
Tim dosen ini diketuai oleh Dr. Aladin Eko Purkuncoro, ST., MT., beranggotakan Eko Budi Santoso, ST., MM., MT., dan Ir. Eko Nurcahyo, MT. Mereka juga dibantu oleh sejumlah mahasiswa dalam proses penggarapan teknologi tepat guna.
Desa Sumberdem memiliki potensi besar sebagai salah satu sentra penghasil kopi terbaik di Kabupaten Malang, dengan lebih dari 200 hektare lahan kopi. Produk unggulannya, Kopi 1832, dan Kopi Combre telah dikenal luas. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah inkonsistensi rasa akibat penggunaan metode pengolahan tradisional, terutama pada proses sangrai.
Melalui Program Inovasi Kreatif Mitra Vokasi, ITN Malang menghadirkan mesin roasting kopi otomatis sebagai solusi utama untuk mengatasi permasalahan ini. Mesin tersebut dirancang untuk beberapa hal.
“Kami berupaya meningkatkan konsistensi rasa dengan proses roasting yang dikontrol secara otomatis memastikan kematangan biji kopi sesuai standar,” ujar Aladin, yang juga dosen Teknik Mesin ITN Malang tersebut.
Selain itu mesin ini dapat meningkatkan kapasitas produksi. Mesin ini mampu mengolah 40 hingga 50 kilogram biji kopi dalam satu siklus, meningkatkan efisiensi dibandingkan metode tradisional.
Kemudian dapat meningkatkan nilai tambah produk. Dengan konsistensi kualitas, Kopi 1832 memiliki peluang besar untuk menembus pasar ekspor.
“Dengan teknologi ini, kami berharap Kopi Sumberdem dapat bersaing di pasar global. Permintaan dari luar negeri, seperti Amerika, menginginkan standar yang konsisten dari segi rasa dan kualitas. Teknologi tepat guna ini menjawab tantangan tersebut,” jelas Dr. Aladin.
Selain berfokus pada peningkatan kualitas kopi, ITN Malang juga mengembangkan program edukasi kepada petani setempat. Pelatihan terkait penggunaan mesin roasting dan pemilihan biji kopi berkualitas diharapkan dapat meningkatkan pemahaman petani terhadap standar internasional.

“Teknologi ini tidak hanya mendukung produksi, tetapi juga meningkatkan kapasitas pengetahuan petani lokal, sehingga Desa Sumberdem dapat menjadi percontohan bagi daerah lain,” tambah Dr. Aladin.
ITN Malang juga berencana mematenkan mesin roasting kopi otomatis ini, yang dirancang khusus dengan kontrol digital dan variabel pengaturan seperti temperatur dan tingkat kematangan biji kopi. Langkah ini akan memberikan keunggulan kompetitif bagi produk lokal.
Dengan teknologi inovatif ini, Desa Sumberdem dapat mempertahankan posisinya sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Malang. Selain itu diharapkan juga meningkatkan daya saingnya di pasar ekspor.
“Inovasi yang diusung ITN Malang menjadi bukti bahwa kolaborasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat dapat memberikan dampak besar pada sektor ekonomi lokal. Dengan dukungan teknologi tepat guna, Kopi 1832 dan Kopi Combre siap menembus pasar global dan menjadi ikon baru dari Desa Sumberdem,” tutup pria yang menjadi owner pada beberapa jenis usaha tersebut. (dan/kun)






