Ponorogo (beritajatim.com) – Ramadan selalu melahirkan tren dan inovasi baru di meja berbuka. Di tengah dominasi kolak dan gorengan, kini muncul alternatif takjil dan puluran (camilan) baru di Ponorogo. Yakni jajanan bernama cothot isi kurma.
Olahan berbahan dasar singkong ini hadir membawa konsep berbeda. Jika biasanya cothot identik dengan isian gula pasir, edisi Ramadhan kali ini, memadukan gurihnya ketela kukus dengan rasa kurma yang manis. Alhasil menghadirkan rasa yang menggugah selera dan cocok untuk takjil dan puluran.
Inovasi tersebut digagas Maya Nika Sari, pelaku usaha rumahan di kawasan Kelurahan Kertosari Kecamatan Babadan. Owner Cucur Ceria ini sengaja menghadirkan varian baru agar warga memiliki pilihan takjil maupun puluran yang tak monoton.
“InI awalnya karena ingin membuat menu takjil untuk ramadhan. Saya berusaha membuat menu baru untuk takjil dan puluran yang belum banyak orang buat. Ya akhirnya jatuh pada makanan berbahan singkong, yakni cothot isi kurma ini,” kata Maya saat ditemui di tempat usahanya Cucur Ceria di Jalan Cinde Wilis Kelurahan Kertosari, Minggu (1/3/2026).
Secara tampilan, cothot isi kurma dibentuk menyerupai pastel kecil. Singkong dikukus hingga empuk, dihaluskan, diberi vanili, lalu diisi potongan kurma dengan sedikit tambahan gula agar rasa manisnya tetap seimbang.
Perpaduan rasa gurih dan manis yang tidak berlebihan menjadi pembeda utama. Kurma yang identik dengan Ramadhan juga memberi nilai lebih, baik dari sisi rasa maupun kandungan gizinya.
“Edisi ramadhan jadi buat yang berisi kurma. Sebab kurma banyak mengandung gizi, sehingga puasanya kuat dan sehat,” tambah Maya.
Harga yang terjangkau membuatnya cepat diterima pasar. Satu biji dihargai Rp1.000, dan dalam sehari bisa terjual sedikitnya 500 biji. Ada yang dimakan sendiri, ada juga yang beli dalam jumlah besar untuk takjil maupun diberikan untuk puluran di masjid maupun musala.
“Harganya satu biji cuma seribu, dan sejak awal Ramadhan permintaan selalu meningkat, ya minimal habis 500 biji,” katanya.
Respons konsumen pun positif. Fitri, salah satu pelanggan, mengaku varian isi kurma terasa lebih ringan dibanding versi original. Menurutnya, cothot isi kurma ini cocok untuk hidangan takjil maupun puluran.
“Rasanya lebih gurih kurma kerasa gak enek. Kalau ori lebih manis. Cocok buat menu takjil bisa. Sekali makan kurang, ya dua lah kenyang,” ungkapnya.
Sebelum Ramadhan, Fitri biasa membeli cothot original. Namun kini, varian kurma menjadi favorit baru. Dia pun merekomendasikan keluarga dan temannya untuk membeli cothot isi kurma untuk hidangan buka puasa maupun puluran. “Biasa beli cotot di sini. Karena jarang ada di tempat lain,” pungkasnya.
Hadirnya cothot isi kurma menunjukkan bahwa inovasi sederhana berbasis pangan lokal mampu menciptakan alternatif takjil yang enak dan berbeda di Ponorogo. Di tengah persaingan jajanan musiman, singkong pun naik kelas menjadi puluran khas Ramadhan yang kian diminati. [end/suf]






