Surabaya (beritajatim.com) – FKM Unair (Fakultas Kesehatan Masyaraka Universitas Airlangga) terus berjuang untuk menyadarkan masyarakat, utamanya di Surabaya tentang bahayanya paparan asap rokok.
Melalui Research Group Tobacco Control, FKM Unair getol mengkampanyekan kawasan tanpa rokok (KTR). Pada Minggu (9/6/2024) pagi tadi, mereka juga menggelar sosialisasi di CFD Bungkul, dimana salah satu kegiatannya penukaran rokok dengan susu.
“Ini sebagai bagian upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang asap rokok ini berbahaya. Ini bagian dari bentuk edukasi untuk hidup sehat,” ujar Dekan FKM Unair Prof Santi Martini.
Santi mengungkapkan bahwa berdasarkan rilis yang disampaikan BPJS, disebutkan jika penyakit yang paling banyak menyedot dana BPJS di antaranya penyakit ginjal kronis, kanker, hipertensi hingga diabetes miletus.
“Penyakit-penyakit itu ada faktor risikonya berkaitan dengan paparan asap rokok,” ungkap ketua Research Group Tobacco Control tersebut.
Sementara data Riskesdas tahun 2018 mengungkap bahwa ada kenaikan prevalensi merokok pada populasi usia remaja 10-18 tahun, yakni 9,1 persen. Surabaya sendiri memiliki 9,28 persen remaja laki-laki sebagai perokok aktif.
Karena itu, lanjut Santi, pihaknya menggandeng Pemkot Surabaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya paparan asap rokok tersebut. Di sisi lain, pemkot juga sepaham bahwa warganya harus sehat.
“Surveinya, masyarakat Surabaya mendukung adanya Perda KTR, termasuk kalangan perokok juga mendukung. (Di Surabaya) yang masih merokok sekitar 30 persen berdasarkan Riskesdas 2018. Ini tantangan kita semua,” katanya.
Sebagai informasi, Research Group Tobacco Control FKM Unair menggelar sosialisasi kawasan tanpa rokok di Taman Bungkul Surabaya. Acara ini sekaligus untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2024.
Dalam sosialisasi itu juga dilakukan aksi penukaran rokok dengan susu, pengecekan kesehatan gratis, dan sidak perokok di Taman Bungkul. [ipl/suf]






