Jember (beritajatim.com) – M (40), seorang perempuan warga Dusun Sumber Lanas Barat, Desa Harjomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten jember, Jawa Timur, melewati masa kritisnya setelah gagal bunuh diri dan membunuh anaknya yang berusia enam tahun pada Jumat (9/6/2023) dini hari.
M saat ini dirawat di Ruang Tulip yang disediakan khusus untuk perawatan jiwa. “Fisiknya stabil. Kondisinya baik. Dia ditangani dokter spesialis psikiatri,” kata Pelaksana Tugas Direktur RSD dr. Soebandi Lilik Lailiyah, Minggu (18/6/2023).
Petugas Dinas Sosial saat ini berusaha mendekati keluarga M agar bisa dirawat sebagai pasien gangguan jiwa. “Keluarganya tidak mau M disebut mengalami gangguan jiwa. Mereka marah kalau M disebut gangguan jiwa, dan menganggapnya kesurupan,” kata Kepala Dinas Sosial Jember Akhmad Helmi Luqman.
Kondisi ini membuat pemerintah harus melakukan pendekatan lebih persuasif lagi. Apalagi penyebab gangguan jiwa tidak tunggal. “Ada gangguan jiwa yang dikarenakan benturan emosional, ada juga gangguan jiwa karena bawaan genetik. Yang sulit adalah bawaan genetik,” kata Helmi.
Pasien gangguan jiwa psikofrenia harus rutin berobat. “Ada psikofrenia psikotik yang cenderung melukai orang lain. Ini berbahaya. (Perlu ada pengecekan kesehatan) yang bersangkutan masuk dalam kategori mana,” kata Helmi.
Setelah M dipulangkan dari rumah sakit, Dinsos Jember akan mendampinginya. “Petugas sosial di wilayah timur akan melakukan pendekatan dan konsultasi kepada (keluarga) korban, setelah melakukan pendampingan rutin. Nanti kami akan rekomendasi yang bersangkutan agar mendapat pendampingan rutin dari puskesmas,” kata Helmi.
M adalah istri Saleh, seorang petani kopi di Silo. Menurut penuturan Mulyono, salah satu tokoh masyarakat yang juga tetangga korban, semula anak perempuan M yang berinisial N tidur bersama Saleh. “Sekitar jam 10 malam, N dipindah ke kamar belakang oleh ibunya dan tidur berdua,” kata Mulyono.
Sekitar pukul dua, Jumat (9/6/2023) dini hari, Saleh terbangun dan mendengar suara aneh dari kamar belakang. Ia mendengar suara seperti orang mendengkur. Suara itu bukan layaknya dengkuran orang tidur, namun seperti suara ngorok leher yang disembelih.
Saleh buru-buru membuka pintu. Terkunci. Dengan perasaan berdebar-debar, dia mendobrak pintu itu, dan melihat istri dan dan anak bungsunya sudah tergeletak bersimbah darah. Sang anak ditutupi selimut di atas tempat tidur dengan bagian kepala dan leher terluka. Si anak sudah tak bernyawa. Sementara M segera dilarikan ke rumah sakit karena darah terus mengucur. [wir]






