Madiun (beritajatim.com) – Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2024, The Republic Institute telah merilis hasil riset voting behavior di Kota Madiun. Dengan tema Membaca Peta Elektabilitas Pilkada Kota Madiun, penelitian ini dipimpin oleh Dr. Sufyanto, S.Ag., M.Si., yang bertujuan untuk memahami isu-isu politik yang menjadi perhatian warga serta popularitas dan elektabilitas calon-calon wali kota dan wakil wali kota.
Dalam persiapan Pemilihan Walikota Madiun, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi elektabilitas calon walikota di kalangan masyarakat, seperti usia, afiliasi organisasi masyarakat (ormas), dan partai politik. Berdasarkan data yang dihimpun, Maidi – Bagus Panuntun (MADIUN) muncul sebagai pasangan calon dengan tingkat elektabilitas yang cukup merata dan tinggi di setiap segmen pemilih. Berikut ini adalah analisis lengkap dari elektabilitas calon walikota berdasarkan beberapa variabel tersebut.
1. Elektabilitas Berdasarkan Usia
Dukungan terhadap Maidi – Bagus Panuntun (MADIUN) terlihat konsisten di berbagai kelompok usia. Di segmen pemilih pemula (usia 17-19 tahun), pasangan ini mendapatkan 46 persen dukungan, kemudian mengalami peningkatan di kelompok usia 20-29 tahun (46,8 persen), 30-39 tahun (67,3 persen), dan mencapai puncak pada usia 40-49 tahun (68,3 persen).
“Sementara itu, dukungan dari pemilih lansia juga cukup signifikan, dengan dukungan sebesar 73,9% dari kelompok usia 50-59 tahun dan 80,4 persen dari usia di atas 60 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pasangan Maidi–Bagus Panuntun memiliki daya tarik yang luas dan lintas generasi di kalangan masyarakat,” terang Peneliti Utama The Republic Institute, Dr. Sufyanto, Rabu (6/11/2024)
2. Elektabilitas Berdasarkan Afiliasi Ormas
Dukungan dari organisasi masyarakat (ormas) terhadap pasangan Maidi–Bagus Panuntun juga cukup kuat. Di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), pasangan ini memperoleh 67,4 persen, diikuti oleh Bonie–Bagus Rizki Dirmawan (BONUS) dengan 21,5 persen, dan Inda Raya-Aldi Dwi (DADI) dengan 5 persen. Di ormas Muhammadiyah, dukungan terhadap Maidi-Bagus Panuntun bahkan lebih tinggi, mencapai 61,7 persen.
“Hal ini mencerminkan dukungan dari kelompok-kelompok ormas besar yang berada di Madiun. Di sisi lain, bagi kalangan yang tidak terafiliasi dengan ormas tertentu, Maidi–Bagus Panuntun masih tetap unggul dengan elektabilitas 40,4 persen,” lanjut Sufyanto.
3. Elektabilitas Berdasarkan Afiliasi Partai Politik
Pemilih yang berafiliasi dengan partai politik juga menunjukkan preferensi yang dominan terhadap Maidi – Bagus Panuntun (MADIUN). Pasangan ini menerima dukungan tertinggi dari pemilih PKB dengan angka 90,1 persen, diikuti oleh Gerindra (95,2 persen), NasDem (80 persen), PKS (79,2 persen), dan PAN (75 persen). Dukungan serupa juga datang dari pemilih Demokrat (87,3 persen) dan PSI (91,6 persen).
“Pasangan Bonie – Bagus Rizki Dirmawan (BONUS) memperoleh dukungan tertinggi dari pemilih Golkar (76,2%) dan beberapa partai lainnya seperti Perindo dan Hanura, walaupun masih di bawah pasangan Maidi – Bagus Panuntun,” papar Sufyanto.
Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa pasangan Maidi-Bagus Panuntun memiliki popularitas yang cukup tinggi di kalangan masyarakat Madiun dari berbagai aspek, baik usia, ormas, maupun afiliasi partai. Tingginya dukungan dari berbagai segmen masyarakat ini memberikan indikasi bahwa pasangan Maidi-Bagus Panuntun memiliki peluang yang kuat dalam kontestasi Pemilihan Walikota Madiun.
“Dukungan yang merata dari seluruh lapisan usia, ormas, dan partai politik memberikan keunggulan kompetitif bagi pasangan ini, menjadikan mereka sebagai calon yang memiliki daya tarik luas di masyarakat,” katanya. [fiq/beq]






