Surabaya (beritajatim.com) – Luluk Nur Hamida, calon Gubernur Jawa Timur dengan nomor urut 1, mencuri perhatian dalam pemilihan gubernur kali ini.
Selain karena visi dan misi yang diusungnya, gaya berbusana Luluk yang khas dengan warna ungu dan turban menjadi sorotan publik.
Penampilan ini tak hanya sekadar estetika, namun juga memiliki makna mendalam bagi Luluk yang telah konsisten mengenakan warna ungu selama lebih dari 25 tahun.
Makna Ungu dalam Perjuangan Luluk Nur Hamida
Dalam sesi podcast di Kantor Beritajatim.com, Senin (14/10/2024), Luluk Nur Hamida menjelaskan bahwa warna ungu sudah menjadi bagian dari dirinya sejak kecil.
“Waktu kecil, ibu saya sering membelikan baju warna ungu yang cantik sekali. Selain itu, warna ungu bagi saya melambangkan perjuangan perempuan, menyatukan gerakan-gerakan perempuan di seluruh dunia, dan juga mencerminkan spiritualitas yang tinggi,” ungkap Luluk.
Ia juga menyebutkan bahwa warna ungu erat kaitannya dengan sosok Ratu Kencono Wungu, yang mencerminkan kekuatan dan kebijaksanaan.
Warna ungu telah menjadi simbol kuat dalam gerakan feminis global, yang kerap digunakan sebagai representasi perjuangan perempuan dalam mencapai kesetaraan.
Sebagai calon gubernur, Luluk membawa semangat tersebut dalam setiap penampilannya, ingin menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki kekuatan dalam memimpin.
Turban sebagai Bagian dari Identitas
Selain warna ungu, Luluk juga dikenal dengan turbannya yang selalu menghiasi penampilannya. Banyak yang bertanya apakah ada alasan agama di balik pilihan fashion tersebut.
Luluk menegaskan bahwa turban adalah bagian dari gaya berbusananya yang telah ia kenakan selama lebih dari dua dekade.
“Masak pilgub hanya berlangsung dua bulan, dan saya harus mengganti style yang sudah saya pakai selama 25 tahun? Tidak mungkin,” ujar Luluk tegas.
Bagi Luluk, fashion adalah tentang kenyamanan dan keyakinan diri. Ia merasa bahwa apa yang ia kenakan, baik warna ungu maupun turban, mencerminkan kepribadiannya yang berani dan berbeda.
“Fashion harus tetap nyaman. Jika tidak nyaman, ya buat apa dipakai,” tambahnya.
Gaya berbusana Luluk juga mencerminkan komitmennya untuk tetap autentik dan konsisten dalam setiap langkahnya, termasuk dalam kampanye pilgub ini.
Ajak Warga untuk Coblos Nomor 1 dengan Warna Ungu
Luluk juga tak segan mengaitkan warna ungu yang ia cintai dengan pemilihannya dalam pemilu. Ia mengingatkan kepada masyarakat Jawa Timur untuk tidak lupa mencoblos nomor 1, yang secara simbolik ia identifikasi dengan warna ungu.
“Jangan lupa coblos yang warna ungu di kertas surat suara,” candanya.
Warna ungu menjadi pesan kuat yang ingin ia sampaikan kepada para pendukungnya—sebuah tanda keberanian, kebijaksanaan, dan komitmen dalam memperjuangkan kepentingan rakyat Jawa Timur.
Dengan penampilan khas yang didominasi warna ungu dan turban, Luluk Nur Hamida tampil percaya diri, memancarkan aura pemimpin yang kuat namun tetap hangat.
Ia berharap bahwa kehadirannya dalam kontestasi politik ini dapat membawa perubahan positif bagi Jawa Timur, khususnya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, kesetaraan, dan kemajuan spiritual masyarakat. (fyi/ian)






