Bojonegoro (beritajatim.com) – Pegiat komunitas Suara Perempuan Penggerak Komunitas (SPeaK) Anis Umi Khoirotunnisa mengatakan, berdasarkan data Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bojonegoro tahun 2020 menunjukkan adanya ketimpangan gender. Nilai IPM laki-laki sebesar 73,57 poin, sementara nilai IPM perempuan hanya 66,34 poin.
Sebagaimana diketahui, IPM merupakan salah satu indikator utama pembangunan, yang dipakai untuk mengukur keberhasilan pembangunan kualitas hidup masyarakat, meliputi dimensi kesehatan, pendidikan dan ekonomi.
Hal itu disampaikan Anis, dalam diskusi dengan tema ‘Penguatan Pengarusutamaan Gender di Kabupaten Bojonegoro’ yang digelar Bojonegoro Institute bersama IDEA melalui Program SPEAK (Strengthening Public Services through the Empowerment of Women-Led Advocacy and Social Audit Networks) dengan dukungan pendanaan dari Uni Eropa dan Hivos, Rabu (29/12/2021).
Kegiatan yang diselenggarakan dengan tujuan mendorong peningkatan pelayanan publik ini, melibatkan beberapa perwakilan komunitas di Bojonegoro, seperti Suara Perempuan Penggerak Komunitas, PRCi (Poverty Resource Center Initiative) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bojonegoro.
Menanggapi kesenjangan gender sebagaimana tergambarkan pada nilai IPM tersebut, Anis berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro menaruh perhatian serius dengan memperkuat pelaksanaan pengarusutamaan gender dalam perencanaan dan penganggaran daerah.
“Untuk mengatasi ketimpangan gender di Bojonegoro, maka perencanaan dan anggaran pembangunan daerah harus lebih responsif gender,” tutur Anis, panggilan akrabnya.
Perempuan kelahiran Kecamatan Kapas ini menyebut salah satu contoh permasalahan di sektor kesehatan yang membutuhkan perhatian para pemangku kebijakan di daerah karena berpengaruh terhadap kualitas pembangunan masyarakat, yakni terkait tingginya kasus kematian ibu dan anak di Bojonegoro.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, per Agustus tahun 2020 yang ia sampaikan, terdapat 27 kasus kematian ibu dengan Angka Kematian Ibu 227,22/100.000 Kelahiran Hidup (KH), jumlah ini lebih besar dari target tahun 2020 yaitu 16 kasus kematian ibu dengan Angka Kematian Ibu 91,45 per 100.000 (KH)
“Jika kasus kematian ibu dan anak dapat ditangani dengan baik, kasus jadi berkurang, maka usia harapan hidup akan menjadi meningkat, karena usia harapan hidup menjadi salah satu tolak ukur dalam perhitungan IPM dari dimensi kesehatan,” tuturnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-bojonegoro”]
Sementara itu, Lilis Aprilliati, Budget and Advocacy Officer Program SPEAK Kabupaten Bojonegoro dalam komentarnya, mengatakan bahwa selama ini Program SPEAK telah memfasilitasi dan mendorong penguatan Pengarusutamaan Gender (PUG) kepada komunitas perempuan di Bojonegoro. Diantarnya, melalui berbagai kegiatan yang telah dijalankan, seperti sosialisasi, workshop, pelatihan dan riset.
“Terakhir kami lakukan sosialisasi PUG kepada komunitas perempuan di Kecamatan Temayang. Melalui sosialisasi tersebut, diharapkan mampu mendorong komunitas perempuan agar bersuara dan terlibat aktif dalam proses pembangunan,” jelasnya.
Lilis menambahkan, selain mendorong keterlibatan dan partisipasi perempuan dalam perencanaan pembangunan, komunitas perempuan juga telah dilatih dan didampingi untuk mengawal aspirasi mereka, salah satunya dengan pemanfaatan kanal pengaduan, seperti lapor.go.id atau mendorong partisipasi mereka dalam forum Musrenbang Khusus Perempuan yang diselenggarakan Pemkab Bojonegoro guna menggali aspirasi perempuan di daerah. [lus/ted]






