Ringkasan Berita:
- PT Inti Megah Swara menggelar IMS Connect 2026 di Surabaya sebagai wadah kolaborasi industri Audio, Visual, Lighting, dan Automation (AVL).
- Ajang yang berlangsung bersamaan dengan SMEX 2026 menghadirkan sekitar 20 merek internasional dan berbagai teknologi profesional.
- IMS menekankan penyediaan solusi teknologi terintegrasi, bukan sekadar menjual perangkat audio visual.
- Pameran juga menghadirkan seminar, workshop, demonstrasi produk, hingga networking untuk memperkuat ekosistem AVL nasional.
Surabaya (beritajatim.com) – PT Inti Megah Swara (IMS) menghadirkan IMS Connect 2026 sebagai wadah kolaborasi bagi pelaku industri Audio, Visual, Lighting, dan Automation (AVL) di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung pada 25–27 Juni 2026 di Grand City Convention & Exhibition Surabaya ini digelar bersamaan dengan Surabaya Music Expo (SMEX) 2026.
Tidak sekadar menjadi ajang pameran produk, IMS Connect dirancang sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan penyedia teknologi, system integrator, kontraktor, mitra bisnis, hingga pengguna akhir yang membutuhkan solusi AVL terintegrasi untuk berbagai sektor industri.
Direktur PT Inti Megah Swara, A. Cahyo Budiono, mengatakan perkembangan industri saat ini menuntut hadirnya solusi yang tidak hanya berfokus pada perangkat, tetapi juga mampu menghubungkan berbagai kebutuhan teknologi dalam satu ekosistem yang saling terintegrasi.
“IMS Connect kami hadirkan sebagai platform yang mempertemukan teknologi, brand global, dan para profesional dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Melalui acara ini, kami ingin menunjukkan bahwa IMS tidak hanya menyediakan produk, tetapi juga solusi yang mampu menjawab kebutuhan industri secara menyeluruh,” ujarnya.
Menurut Cahyo, kemajuan teknologi membuat perangkat profesional kini semakin mudah diakses dibandingkan beberapa tahun lalu sehingga membuka peluang lebih luas bagi pelaku industri untuk memanfaatkan teknologi terkini.
“Dengan teknologi yang semakin maju, peralatan sekarang justru menjadi lebih affordable dan lebih aksesibel. Saya tidak mengatakan murah, tetapi jauh lebih terjangkau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Ia menjelaskan, pada kelas perangkat profesional, perbedaan antarbrand global kini tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk. Menurutnya, merek-merek seperti JBL Professional, Shure, Soundcraft, Electro-Voice, hingga berbagai brand profesional lainnya telah memiliki standar kualitas yang relatif setara.
“Kalau sudah berada di kelas yang sama, yang terpenting adalah apakah brand tersebut mampu memberikan solusi bagi penggunanya atau tidak. Kami di IMS mencoba menghadirkan solusi yang menjawab tantangan teknologi sekaligus memudahkan para pelaku usaha,” jelasnya.
Sebagai bagian dari layanan tersebut, IMS juga menyediakan dukungan teknis melalui tim engineer profesional yang siap membantu pelanggan mengimplementasikan teknologi terbaru sesuai kebutuhan proyek maupun operasional.
Selama tiga hari penyelenggaraan, pengunjung dapat melihat langsung berbagai inovasi terbaru di bidang audio profesional, pencahayaan panggung, visual display, sistem otomasi, hingga instrumen musik. Berbagai teknologi tersebut banyak diterapkan di venue hiburan, rumah ibadah, fasilitas pemerintahan, sektor perhotelan, korporasi, hingga proyek-proyek komersial.
IMS Connect 2026 menghadirkan sekitar 20 brand internasional dalam satu area pameran. Di antaranya AKG, JBL Professional, Shure, Soundcraft, Crown, dbx, Hisense, Martin, Unilumin, AVID, AYRTON, MA Lighting, Control4, dan LifeSmart.
Menurut Cahyo, menghadirkan puluhan brand profesional dalam satu lokasi menjadi konsep yang sengaja dirancang agar pengunjung memperoleh pengalaman yang lebih komprehensif.
“Dengan menghadirkan sekitar 20 brand dalam satu atap, ini seperti membuat pameran mini tersendiri. Kami berusaha menghadirkannya dengan standar profesional yang mengacu pada referensi pameran-pameran internasional,” ujarnya.
Selain menampilkan produk, setiap hari penyelenggaraan juga diisi seminar, workshop, demonstrasi produk, networking session, hingga pertunjukan musik dan tata cahaya yang dikemas berdasarkan tema tertentu.
“Pameran profesional seharusnya bukan hanya menampilkan peralatan. Pengunjung juga harus mendapatkan nilai tambah dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai teknologi yang ditawarkan,” tambah Cahyo.
Pemilihan Surabaya sebagai lokasi penyelenggaraan dinilai strategis karena merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi terbesar di Indonesia sekaligus memiliki ekosistem industri AVL yang terus berkembang. Keberadaan SMEX yang secara konsisten digelar setiap tahun juga menjadi pertimbangan penting bagi IMS.
“SMEX saat ini bisa dibilang menjadi salah satu pameran sejenis yang terbaik karena konsistensinya. Jumlah pengunjung juga terus terjaga dan tidak mengalami penurunan. Kami melihat ini sebagai kesempatan untuk bersama-sama memberikan nilai tambah bagi industri,” katanya.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang, Cahyo mengakui penurunan daya beli turut memengaruhi industri perangkat profesional. Namun kondisi tersebut justru menjadi tantangan bagi IMS untuk menghadirkan solusi yang lebih efisien, fleksibel, dan sesuai kebutuhan pasar.
“Daya beli yang menurun tentu sangat berpengaruh terhadap bisnis. Karena itu kami terus mencari cara agar pelanggan tetap bisa mendapatkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka,” ujarnya.
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade sebagai distributor sekaligus penyedia solusi AVL di Indonesia, PT Inti Megah Swara menilai kolaborasi menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan industri. Melalui IMS Connect 2026, perusahaan berharap mampu menjadi ruang belajar, berbagi wawasan, memperkuat jejaring bisnis, serta mempertemukan teknologi, ide, dan peluang baru untuk mempercepat perkembangan ekosistem Audio, Visual, Lighting, dan Automation di Indonesia. [can/beq]






