Ringkasan Berita:
- Kanim Kelas II Non TPI Blitar mencatat 211 WNA beraktivitas dan tinggal di wilayah kerjanya.
- Wilayah tersebut meliputi Kota Blitar, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Tulungagung.
- Mayoritas WNA berada di wilayah tersebut karena penyatuan keluarga dan keperluan pendidikan.
- WNA yang terdata mayoritas berasal dari Malaysia dan Thailand, sementara jumlahnya masih dinamis hingga akhir 2026.
Blitar (beritajatim.com) – Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas II Non TPI Blitar mencatat sebanyak 211 Warga Negara Asing (WNA) terdeteksi beraktivitas dan tinggal di wilayah hukumnya, yang meliputi Kota Blitar, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Tulungagung.
Dari jumlah tersebut, keberadaan WNA di kawasan Jawa Timur bagian selatan didominasi motif penyatuan keluarga (family reunion) serta keperluan pendidikan.
Kepala Kantor Imigrasi Blitar Aditya Nursanto mengungkapkan, pergerakan keberadaan WNA di wilayah kerjanya cenderung fluktuatif jika dibandingkan dengan periode tahun-tahun sebelumnya.
“Sampai saat ini ada 211 WNA yang kami deteksi dan terdata di wilayah kerja kami, meliputi Kabupaten/Kota Blitar dan Tulungagung,” ujar Aditya Nursanto, Kamis (3/9/2026).
Aditya menjelaskan, dari total WNA yang terdata, sektor penyatuan keluarga atau pernikahan campuran menyumbang porsi terbesar, yakni sekitar 15 persen. Selain itu, keberadaan mahasiswa asing yang menempuh studi di perguruan tinggi seperti UIN turut menyumbang angka keberadaan warga asing di kawasan ini.
“Paling banyak karena faktor campuran keluarga atau penyatuan keluarga. Mereka secara berkala melakukan pelayanan imigrasi di tempat kami, baik untuk perpanjangan izin tinggal maupun alih status izin tinggal,” jelasnya.
Mengenai negara asal, mayoritas WNA yang menetap sementara di Blitar dan Tulungagung berasal dari kawasan Asia Tenggara.
“Rata-rata berasal dari Malaysia dan Thailand,” imbuhnya.
Jika dibandingkan dengan angka tahun lalu, jumlah WNA tahun ini tercatat melandai. Pada tahun sebelumnya, Kanim Blitar mencatat keberadaan WNA sempat menembus angka hingga 500 orang dalam kurun waktu satu tahun.
Meski demikian, Aditya menegaskan data 211 WNA tersebut masih bersifat dinamis karena rekapitulasi tahun berjalan belum berakhir.
“Jumlah warga negara asing di wilayah ini memang naik turun. Tahun lalu bisa sampai 500 orang dalam setahun. Angka 211 ini kan belum selesai sampai akhir tahun, jadi masih ada kemungkinan bertambah,” paparnya.
Lebih jauh, Aditya menilai karakteristik wilayah Jawa Timur bagian selatan sejauh ini belum menjadi destinasi utama bagi wisatawan mancanegara maupun pusat pekerja asing skala besar. Faktor pertumbuhan keberadaan WNA di daerah sangat bergantung pada kebijakan dan inovasi pemerintah daerah setempat dalam menarik investasi maupun sektor pariwisata.
“Wilayah selatan Jawa Timur ini kemungkinan belum menjadi tujuan favorit utama untuk pariwisata maupun bekerja bagi WNA. Kami di Imigrasi pada prinsipnya adalah pelaksana pelayanan. Jika pemerintah daerah berhasil menggaet investor asing atau mempromosikan wisata internasional, tentu dinamika jumlah WNA akan mengikuti,” pungkas Aditya. [owi/beq]






