Ringkasan Berita:
- IHSG mengakhiri perdagangan pekan 7-11 September 2026 di level 6.541,37, turun 1,43% secara mingguan.
- Pasar pekan ini mencermati keputusan suku bunga The Fed dan Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan sama-sama menaikkan suku bunga 25 basis poin.
- Secara teknikal, IHSG masih berada di bawah MA20 6.623, tetapi pola candle terakhir menunjukkan adanya penolakan terhadap tekanan jual.
- IPOT merekomendasikan ASII, CPIN, EXCL dan Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD) untuk perdagangan pekan ini.
Jakarta (beritajatim.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan 14-18 September 2026. Pasar akan mencermati keputusan kebijakan moneter The Fed dan Bank of Japan (BoJ), di tengah sentimen global yang masih dibayangi tekanan inflasi, kenaikan harga energi dan ketidakpastian geopolitik.
“Kenaikan suku bunga kedua bank sentral berpotensi menekan appetite terhadap aset berisiko, terutama apabila komunikasi keduanya lebih hawkish dari ekspektasi,” kata Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi.
Pada perdagangan pekan sebelumnya, 7-11 September 2026, IHSG ditutup di level 6.541,37 atau terkoreksi 1,43% secara mingguan. Koreksi terjadi setelah indeks sebelumnya berhasil mendekati area resistance 6.705.
Menurut Imam, tekanan tersebut dapat dilihat sebagai kombinasi aksi ambil untung atau profit taking dan meningkatnya ketidakpastian global. Kenaikan harga minyak serta perhatian investor terhadap arah kebijakan moneter global membuat pelaku pasar cenderung lebih defensif.
Sentimen global pekan lalu turut dipengaruhi meningkatnya risiko pasokan energi dan respons geopolitik negara-negara berkembang. OPEC+ memutuskan menahan kenaikan produksi minyak pada Oktober 2026 di tengah gangguan pasokan signifikan di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Kondisi tersebut melengkapi penurunan produksi 11 anggota OPEC menjadi 19,71 juta barel per hari pada Agustus akibat ketegangan kawasan. Di sisi lain, KTT BRICS 2026 menghasilkan New Delhi Declaration yang menyerukan perlindungan jalur energi global, penolakan sanksi sepihak, dedolarisasi pragmatis melalui transaksi mata uang lokal, serta penguatan supply chain.
Perkembangan tersebut juga disebut memicu perbaikan hubungan ekonomi antara India dan China.
Tekanan inflasi makroekonomi global juga menjadi perhatian. Di Amerika Serikat, lonjakan sektor energi, terutama kenaikan harga solar sebesar 24,1% secara bulanan dan bensin, mendorong Producer Price Index (PPI) menjadi 5,4% secara tahunan. Sementara itu, inflasi konsumen atau CPI bulanan naik menjadi 0,4%.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertengahan September 2026 berada di kisaran 82%-90%.
China juga menghadapi tekanan dari sisi hulu. PPI negara tersebut melonjak 3,8% secara tahunan selama enam bulan berturut-turut, sementara CPI konsumen berada di level 0,8% secara tahunan.
Dari dalam negeri, sentimen positif mulai terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia pada Agustus 2026. IKK naik 1,7 poin menjadi 118,5 atau menunjukkan tanda pemulihan awal (early recovery).
Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan porsi belanja konsumsi masyarakat dari 72,7% menjadi 74,2%, serta meningkatnya minat pembelian barang tahan lama (durable goods).
“Perbaikan keyakinan ini utamanya didorong oleh tergerusnya porsi simpanan tabungan konsumen, turun dari 16,8% menjadi 15,8%, alih-alih kenaikan pendapatan riil. Pemulihannya masih belum merata karena kenaikan IKK hanya terjadi di enam dari 18 kota yang disurvei Bank Indonesia,” ujar Imam.
Meski demikian, konsumen tetap optimistis terhadap prospek ekonomi ke depan. Hal itu tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang melonjak ke posisi 127,6, jauh melampaui Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang berada di level 109,4.
Memasuki pekan 14-18 September 2026, perhatian pasar global terutama tertuju pada keputusan suku bunga dua bank sentral utama, yakni Federal Reserve atau The Fed dan BoJ.
The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis (17/9/2026) pukul 01.00 WIB. Konsensus pasar saat ini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps).
Ekspektasi tersebut semakin menguat setelah data inflasi bulanan Amerika Serikat pada Agustus 2026 naik dari 0,1% pada Juli menjadi 0,4%. Inflasi inti juga meningkat dari 0,2% menjadi 0,3%.
Perhatian kemudian berlanjut ke BoJ yang dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Jumat (18/9/2026). Konsensus memperkirakan BoJ menaikkan suku bunga 25 bps menjadi 1,25%, yang akan menjadi level tertinggi dalam sekitar 31 tahun.
Ekspektasi kenaikan tersebut didukung oleh inflasi yang masih tinggi, pelemahan yen dan kenaikan harga energi.
“Kenaikan suku bunga BoJ juga perlu diperhatikan karena dapat memicu perubahan posisi pada yen carry trade, sementara keputusan The Fed akan menjadi penentu utama arah likuiditas global dan appetite terhadap risk asset,” kata Imam.
Karena itu, investor tidak hanya perlu mencermati apakah kenaikan 25 bps terealisasi sesuai konsensus. Komunikasi kedua bank sentral mengenai kebijakan berikutnya juga menjadi perhatian, terutama untuk melihat apakah sinyal yang diberikan cenderung hawkish atau dovish.
Menurut Imam, katalis IHSG memasuki pekan ini masih cenderung mixed. Di satu sisi, pasar akan mendapatkan kepastian arah kebijakan The Fed yang diperkirakan menaikkan suku bunga 25 bps setelah tekanan inflasi Amerika Serikat kembali meningkat.
Di sisi lain, keputusan BoJ juga menjadi perhatian karena pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 1,25%.
Secara teknikal, momentum jangka pendek IHSG mengalami pelemahan. Hal itu terlihat dari posisi IHSG yang ditutup di bawah MA20 di sekitar level 6.623. Namun, pelemahan tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi perubahan tren menjadi bearish.
“Hal yang menarik justru terlihat pada candle terakhir. IHSG sempat turun hingga 6.462, tetapi berhasil ditutup kembali di 6.541, sehingga membentuk lower shadow yang relatif panjang. Pola ini menunjukkan adanya rejection terhadap tekanan jual di area bawah,” ujar Imam.
Menurut dia, meski secara warna candle masih merah, karakteristiknya menyerupai bullish hammer. Dengan demikian, penembusan MA20 masih dapat dikategorikan sebagai false break atau liquidity grab apabila IHSG mampu kembali naik di atas MA20 pada perdagangan berikutnya.
Di tengah dinamika tersebut, IPOT merekomendasikan sejumlah saham dan instrumen investasi untuk perdagangan pekan ini.
Pertama, ASII dengan rekomendasi buy pada kisaran harga masuk 4.840-4.910, target harga 5.275 dan stop loss di bawah 4.720.
Rekomendasi tersebut didukung pemulihan penjualan mobil nasional. Berdasarkan data GAIKINDO, penjualan wholesales pada Agustus 2026 mencapai 81.756 unit, naik 32,4% secara tahunan dan 0,8% secara bulanan. Angka tersebut sekaligus menjadi level bulanan tertinggi sepanjang 2026.
Dari sisi ritel, penjualan mencapai 83.422 unit atau tumbuh 25,5% secara tahunan. Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, penjualan wholesales mencapai 599.491 unit atau tumbuh 20,1% secara tahunan, sedangkan penjualan ritel mencapai 594.984 unit atau naik 13,9%.
Kedua, CPIN dengan rekomendasi buy pada level 3.160, target harga 3.380 dan stop loss di bawah 3.050.
Pemulihan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak 14 Juli turut menjadi salah satu faktor yang mendorong permintaan broiler. IPOT memperkirakan harga broiler FY26F dapat bertahan di sekitar Rp21.300 per kilogram atau naik 10,5% secara tahunan.
Atas dasar tersebut, estimasi laba FY26F CPIN dinaikkan sebesar 18%, dengan proyeksi pertumbuhan laba sekitar 27,4% secara tahunan. Margin pakan juga diperkirakan berpotensi tetap terjaga.
Risiko yang perlu diperhatikan adalah potensi El Niño yang dapat meningkatkan harga jagung lokal. Namun, dengan harga broiler yang kuat, CPIN diperkirakan memiliki kemampuan lebih baik untuk melakukan pass-through kenaikan biaya input.
Ketiga, EXCL dengan rekomendasi buy pada level 2.630, target harga 2.810 dan stop loss di bawah 2.540.
Pada 4 September 2026, XLSMART menaikkan capitalized capex 2026 menjadi sekitar Rp20 triliun. Langkah tersebut menunjukkan perseroan masih agresif mengalokasikan investasi untuk pengembangan jaringan dan proses integrasi pascamerger.
Keempat, IPOT merekomendasikan Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD). ETF berbasis saham dengan dividen tinggi tersebut dinilai relatif menarik bagi investor yang mencari pendapatan atau yield di tengah kondisi pasar yang masih sensitif terhadap arah suku bunga dan volatilitas IHSG.
IPOT menyebut platform tersebut didukung infrastruktur untuk investor institusi dengan dana kelolaan mencapai Rp312 triliun. IPOT juga mengembangkan The First Full Scale AI Powered Trading Decision Engine dengan fitur berbasis kecerdasan buatan untuk membantu pengguna menganalisis pasar, menyusun rekomendasi portofolio dan mengambil keputusan investasi secara lebih cepat serta terukur. [beq]






