Yogyakarta (beritajatim.com)- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjungkal hingga 5 ersen pada 18 Maret 2025 kemarin. Hal ini memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 30 menit. Langkah ini diambil untuk mencegah kepanikan di tengah tekanan jual besar-besaran.
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Rijadh Djatu Winardi, CFE, menyebut pelemahan IHSG ini tak lepas dari ketidakpastian kebijakan fiskal dan gejolak politik dalam negeri.
“Investor asing sangat sensitif terhadap ketidakjelasan arah kebijakan ekonomi. Defisit APBN di awal tahun 2025 memperburuk kekhawatiran mereka,” ungkap Rijadh.
Dibayangi Risiko dari Kebijakan Pemerintah
Salah satu sorotan utama datang dari program makan bergizi gratis (MBG) yang memakan anggaran hingga 28 miliar dolar AS per tahun. Meski bernilai sosial tinggi, program ini dinilai rawan memperbesar defisit anggaran jika tak dikelola hati-hati.
Selain itu, langkah pemerintah yang mendorong pembentukan 80.000 koperasi desa dengan sokongan dana besar dari bank BUMN turut menimbulkan kekhawatiran risiko kredit macet.
“Ditambah penghapusan pencatatan utang Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan regulasi baru seperti Danantara, membuat investor ragu. Ketidakjelasan aturan inilah yang memicu aksi jual besar-besaran di saham sektor keuangan,” jelas Rijadh.
Modal Asing Kabur, Pasar Tertekan
Data perdagangan mencatat net sell asing pada 18 Maret mencapai Rp2,48 triliun. Sementara itu, investor lokal berusaha menopang pasar dengan aksi beli senilai Rp2,5 triliun pada saham-saham unggulan.
“Sejak Februari, investor asing memang sudah mulai keluar dari pasar Indonesia, diperparah dengan turunnya rating saham Indonesia oleh lembaga keuangan global seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs,” tambahnya.
Deflasi Mengintai, Daya Beli Masyarakat Lemah
Tak hanya dari sisi pasar modal, sektor riil pun tertekan. Data terbaru menunjukkan Indonesia mengalami deflasi 0,48% (mtm) dan 0,09% (yoy) pada Februari 2025. Hal ini menandakan daya beli masyarakat melemah, berdampak pada sektor properti, otomotif, hingga perbankan.
Namun, Rijadh menegaskan bahwa deflasi bukan faktor utama anjloknya IHSG, meski jika terus berlanjut, efeknya bisa berdampak panjang terhadap emiten-emiten yang bergantung pada konsumsi domestik.
Strategi Hadapi Gejolak Pasar
Rijadh menilai, trading halt menjadi mekanisme penting untuk memberi waktu investor berpikir jernih dan menghindari keputusan gegabah. Di sisi lain, kondisi ini juga bisa jadi peluang bagi investor cermat untuk menerapkan strategi buy on weakness.
“Tetap tenang, jangan panik. Setiap krisis pasti ada peluang. Tapi, beli saham saat pasar turun harus cermat dan bertahap,” pesannya.
Menurutnya, diversifikasi investasi adalah kunci. Investor disarankan tak hanya fokus di saham, tapi juga melirik obligasi hingga reksadana untuk meminimalisir risiko.
“Kalau mau cicil beli saham, pilih yang fundamentalnya kuat dan jangan lupa disiplin pasang cut loss agar modal tetap aman,” pungkasnya. [aje]






