Sidoarjo (beritajatim.com) – Rasa pilu sepertinya menyelimuti keluarga pasangan M (45) dan W (40) warga Sedati.
Kenapa? Sudah hampir 6 tahun ini, W yang perutnya buncit dan diakuinya oleh yang bersangkutan hamil, tak kunjung menjalani persalinan atau jabang bayinya lahir.
Hal ini juga membuat keluarga besarnya semakin khawatir dan was-was dengan kondisi perut W yang besar dan seperti usia kandungannya sudah 9 bulan.
Kondisi wanita yang punya usaha jualan isi ulang air mineral itu juga mengundang keprihatinan Wakil Bupati Sidoarjo H. Subandi. Wabup mendatangi keluarga W dan menawarkan pemerintah ikut membantu penanganan kondisi sebenarnya yang dialami oleh W.
Subandi meminta W untuk bersedia menjalani pemeriksaan hingga pengobatan secara gratis atas hal yang dialami. Namun tawaran itu ditolak oleh W yang menemuinya secara langsung.
“Kami atas nama pemerintah, ingin membantu memeriksakan kondisi ibu atas sebenarnya apa yang terjadi. Sesuai diagnosa pihak dokter dan tindak lanjutnya, kami akan membantunya secara gratis,” ucap Wabup H. Subandi di depan W Selasa (21/2/2023).
Menanggapi tawaran Wabup H. Subandi, W menjawab terimakasih atas perhatian pemerintah kepadanya. Tapi W bersama suaminya sudah sepakat, urusan perutnya buncit dan diakui hamil tersebut, tidak ingin ada orang lain yang mencampuri.
“Saya menghaturkan terima kasih kepada Pak Wabup atas perhatian kepada diri saya. Saya bersama suami sudah satu kata, biarkan masalah kehamilan ini, dan jangan sampai ada orang lain mencampuri keluarga saya,” ucapnya di depan wabup.
Mendengar jawaban itu, H. Subandi tidak berani memaksa kehendaknya. Subandi mengaku sudah menawarkan bantuan atau tindakan yang harus dilakukan oleh pemerintah atas sesuatu yang dialami warganya. “Ya sudah, semoga ibu W bersama keluarga, tetap sehat selalu,” doa wabup sembari pamit meninggal rumah W.
Safiudin kakak W mengaku kecewa atas sikap adiknya yang menolak bantuan penanganan masalah kondisi perutnya yang membesar dan tetap diakuinya hamil.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pemkab-sidoarjo”]
Kekecewaan ini diakuinya untuk kesekian kalinya. Sebelumnya dirinya dan keluarga sudah menawarkan tindakan medis untuk memeriksakan perut adiknya yang menurutnya tidak berisi janin itu. Tapi tawarannya ditolak. Tawarannya malah dibalas tidak menganggap baik dan justru memusuhinya.
Bahkan tawaran Safiudin kepada W agar melakukan pemeriksaan dan kondisi sebenarnya yang terjadi, dan untuk biayanya Safiudin yang menanggung semuanya. Tapi jawaban yang ia terima tidak mengenakkan.
“Sudah saya tawari silakan periksa. Dan apapun hasilnya, tindak lanjutnya saya yang membiayai. Tapi jawabnya tidak enak, dan malah saya dimusuhi,” akunya usai ikut menerima kunjungan Wabup H. Subandi.
Aniyu kepala desa tempat tinggal W, juga pernah menawarkan hal sama soal penanganan atas kondisi perutnya yang membesar sejak 6 tahun silam dan diakui yang bersangkutan hamil tersebut.
Tawaran itu tidak digubris oleh W bersama suaminya. Bujuk rayu sudah dilakukan, tapi tidak mempan dan menolak. “Karena penolakan itu, saya tidak berani memaksa dan yang bersangkutan meminta tidak boleh ikut campur tangan soal keluarganya,” akunya. (isa/ted)






