Blitar (beritajatim.com) – Para ibu di Kabupaten Blitar masih malas memeriksakan kondisi kesehatan anaknya ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar menyebut tingkat kunjungan ibu yang memiliki balita ke posyandu masih rendah yakni berada di angka 70 persen.
Pekerjaan menjadi alasan utama para ibu di Bumi Bung Karno malas untuk memeriksakan kondisi kesehatan balitanya ke posyandu. Padahal pemeriksaan ini penting demi menjaga tumbuh kembang anak tetap baik dan terhindar dari stunting.
“Ini yang menjadi pekerjaan kita semua untuk mendorong para ibu, yang mayoritas ibu muda di Blitar untuk dating ke posyandu, karena apa di posyandu ini bukan hanya ditimbang atau diukur panjang tubuh sang anak namun juga ada pembekalan kepada sang ibu begitu juga dengan vaksinasi,” kata Christine Indrawati, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Rabu (09/08/23).
Pemerintah Kabupaten Blitar sendiri sebetulnya memasang target tinggi mengenai tingkat kunjungan posyandu yakni 90 persen dari total balita yang ada di daerah tersebut. Namun target tersebut rasanya sulit untuk dicapai karena tingkat kepedulian tumbuh kembang anak dari para ibu yang mayoritas masih berusia muda, cukup rendah.
Baca Juga: Wali Kota Blitar Mengaku Tangan dan Mulutnya Dilakban
Kurangnya perekonomian keluarga memaksa sejumlah ibu muda di Kabupaten Blitar untuk bekerja. Akibatnya mereka kesulitan membagi waktu, untuk membawa sang buah hati menjalani pemeriksaan kesehatan di posyandu.
Mengatasi hal itu, Dinkes Kabupaten Blitar melakukan trobosan layanan posyandu yakni program sweeping. Program ini dijalankan oleh para kader posyandu dengan sistem kerja berkeliling mendatangi satu persatu rumah yang memiliki balita.
Namun program ini difokuskan untuk para ibu yang malas untuk membawa balitanya ke posyandu. Secara total saat ini ada sekitar 1900 orang kader posyandu yang ada di Kabupaten Blitar. Dinkes Kabupaten Blitar pun menaruh harapan penuh terhadap program ini. Diharapkan inovasi layanan ini bisa berdampak baik pada upaya pemantauan kesehatan anak dan pengentasan stunting di Bumi Bung Karno.
“Jadi setiap posyandu itu ada 5 kader disana, setiap kader ini punya peran masing-masing, mereka ini juga membantu kami untuk melakukan sweeping atau mendatangi satu persatu sasaran posyandu yang datang,” ungkap perempuan berkacamata itu.
Tingkat kunjungan ke posyandu ini menjadi penting, karena dari sini semua data tentang kesehatan anak terbaca. Data tersebut jugalah yang menjadi acuan dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengetahui kondisi kesehatan anak di seluruh daerah.
Sementara untuk tingkat kabupaten, data tersebut bisa menjadi acuan untuk mengetahui permasalahan tumbuh kembang anak termasuk stunting. Dari situlah pemerintah daerah bisa mencari solusi atas permasalah kesehatan anak di wilayahnya.
“Sebetulnya tidak harus ibu kandungnya yang mengantar, bisa nenek atau kakek tapi kalau pekerjaannya bisa izin sebentar untuk hadir di posyandu ya lebih baik lagi, karena ibunya bisa tahu lagi edukasi yang penting terkait tumbuh kembang balita,” pungkasnya. (owi/ted)
[berita-terkait number=”3″ tag=”blitar”]






