Surabaya (beritajatim.com) – Founder GITS.ID, Ibnu Sina Wardy, mendorong programmer berevolusi menjadi arsitek bisnis dan tech founder di era kecerdasan buatan. Perubahan paradigma ini ditekankan dalam Flutter Fusion Surabaya dan ISTTS.
Ia menegaskan pentingnya memahami konteks bisnis daripada sekadar teknis penulisan kode. Menurutnya, kemampuan teknis tanpa pemahaman industri tidak lagi kompetitif di pasar yang bergerak sangat cepat. “Code is cheap, context is king,” ujar Ibnu Sina Wardy ditulis Selasa (24/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap kebutuhan spesifik bisnis kini jauh lebih bernilai dibanding kecepatan mengetik baris kode manual.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak membangun Minimum Viable Product (MVP) dalam hitungan menit menggunakan bantuan AI. Praktik ini menunjukkan AI mampu mempercepat pembuatan antarmuka pengguna dan struktur dasar aplikasi secara instan.
Meski AI dominan, keahlian desain sistem dan arsitektur basis data tetap menjadi pembeda utama. Kemampuan ini dianggap sebagai fondasi teknis krusial yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh kecerdasan buatan.
Ibnu memperkenalkan strategi unfair advantage dengan memanfaatkan koneksi personal sebagai pakar domain. Programmer didorong menjadi mitra teknologi bagi bisnis di sekitar mereka melalui kolaborasi strategis dan pemecahan masalah nyata.
“Programmer harus keluar dari zona nyaman dan mulai memposisikan diri sebagai CTO,” tegasnya. Tujuannya agar developer tidak hanya menjadi pelaksana teknis, melainkan pengambil keputusan yang berdampak pada keberlangsungan bisnis.
Transformasi ini bertumpu pada tiga pilar utama yakni pengetahuan domain, desain sistem, dan pemikiran produk. Ketiganya menjadi syarat mutlak bagi developer yang ingin bertransformasi menjadi pendiri perusahaan teknologi di masa depan. [ipl/kun]






