Hukum & Kriminal

Pendeta HL Diberhentikan Lewat Sidang Raya Sinode HFC

Sutresno Kusmana selaku sekretaris umum sinode HFC

Surabaya (beritajatim.com) – Pendeta HL yang saat ini tengah menjalani sidang perkara kasus pencabulan  di Pengandilan Negeri Surabaya akhirnya diberhentikan melalui Sidang Raya Sinode Gereja Happy Family Center (HFC) 2020.

Banyak hal yang dibahas dalam sidang tersebut satu diantaranya adalah membahas keberadaan pendeta HL dalam struktur organisasi.

Sutresno Kusmana selaku sekretaris umum sinode gereja family senter disela-sela sidang menyatakan bahwa terkait keberadaan pendeta HL dalam AD-ART jelas disebut bahwa seorang pengurus atau pejabat Sinode harus kudus. “ Maka dengan adanya kepengurusan baru maka otomatis pengurus lama ya berhenti,” ujarnya.

Sutresno menyebut bahwa sejak tahun 2011 hingga 2020 belum pernah diadakan Sidang Raya sama sekali. Apalagi paska pendeta HL sebagai Ketum Sinode Gereja HFC terjerat kasus dugaan pencabulan dan sekarang sedang menjalani proses hukum.

“Jadi Sidang Raya Sinode 2020 ini adalah jawaban dari pejabat-pejabat sinode, cabang- cabang dari Gereja HFC, yang menanyakan status dan kejelasan dari Gereja ini.”kata Sutresno.

Sutresno mengklaim bahwa sidang sinode ini bukan sidang yang liar karena sudab mengantongi surat rekomendasi dari Dirjen Binmas Kristen dan juga ketua Binmas Kristen Jawa Timur.

“Jadi sidang raya sinode luar biasa ini tidak bisa semena mena kita sendiri harus ada surat rekomendasi dari pusat,”tandasnya.

Sidang Diprotes 

Sementara itu terkait adanya sidang raya sinode ini mendapat tanggapan dari Ketua umum majelis sinode pekerja Gereja HFC Surabaya, Pendeta Dr. Erika Damayanti SH.Mth yang mengetahuinya adanya sidang raya itu didampingi sekertaris, bendahara dan sejumlah pengerja lain Gereja HFC memprotes.

Ketua umum majelis sinode pekerja Gereja HFC Surabaya Erika Damayanti menjelaskan agenda sidang raya tersebut menyalahi Anggaran Dasar-Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) Gereja HFC. Dia bahkan menyebut tidak mengenal dengan ketua panitianya.

“Saya tidak kenal dengan mereka, mungkin mereka-mereka itu adalah orang-orang yang tidak aktif yang sudah mengundurkan diri sejak Januari lalu. Tapi untuk yang jadi ketua panitianya, saya tidak kenal,” kata Erika Damayanti.

Tak hanya itu saja, Erika Damayanti, menyebut sidang raya tersebut tidak sesuai AD-ART bahkan tidak lazim untuk ukuran sebuah sidang raya.

“Saya tidak berani mengatakan itu ilegal, tapi itu tidak lazim. Sebab, kalau yang namanya sidang raya maka sesuai AD-ART yang mengundang pasti ketua umum atau wakil ketua umum dan sekertaris. Dan undangan sidang raya itu ditandatangani mereka,” sambungnya.

Erika Damayanti menuturkan, sinode pekerja Gereja HFC sebelumnya sudah menggelar sidang raya pada 9 Agustus 2020. Di situ, diputuskan bahwa dirinya dipilih sebagai ketua umum sinode pekerja Gereja HFC untuk periode 2020-2025.

“Sidang raya itu diadakan tanggal 9 Agustus 2020 kemarin. Yang punya hak suara atau yang dapat dipilih hanya yang mempunyai jabatan sebagai pendeta, pendeta muda atau pendeta pembantu tidak punya hak untuk dipilih. Waktu itu, kami memiliki lima kandidat. Akhirnya saya dipilih secara quorum menjadi ketua umum,” tuturnya.

Keputusan itu, sambung Erika Damayanti juga sudah diberitahukan ke Dirjen Bimas Kristen, ke Bimas Kristen Jawa Timur, ke Linmas Propinsi Jawa Timur, ke Aras nasional yakni PGPI Jakarta dan Propinsi Jawa Timur.

“Kami sudah kirimkan pemberitahuan bahwa sudah terbentuk kepengurusan yang baru,” ujarnya. [uci/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar