Iklan Banner Sukun
Hukum & Kriminal

6 Bocah di Ponorogo Jadi Korban Pencabulan Guru Ngaji

Kasatreskrim Polres Ponorogo AKP Jeifson Sitorus(foto/Endra Dwiono).

Ponorogo (beritajatim.com) – Kasus pencabulan terhadap anak dibawah umur kembali terjadi di Ponorogo. Sedikitnya sudah ada 6 bocah laki-laki yang menjadi korban dalam kasus tersebut. Pelakunya pun bukan orang asing, namun orang terdekat para korban.

Pelaku berinisial TR, yang tidak lain adalah guru mengaji di salah satu masjid di kawasan perumahan daerah tingkat II (Perumda) Kecamatan/Kabupaten Ponorogo.

“Pelaku TR ini yang melakukan bimbingan bagi anak-anak yang mengaji di mesjid sana. Korbannya ada 6, semua laki-laki dan masih dibawah umur,” Kasatreskrim Polres Ponorogo AKP Jeifson Sitorus, Jumat (11/3/2022).

Penahanan pelaku pencabulan dengan inisial TR itu sudah dilakukan sejak tanggal 18 Februari lalu. Modus yang digunakan pelaku TR, usai anak-anak itu mengaji, salah satu diantara korban di ajak masuk ke dalam masjid. Dengan berpura-pura korban dipangku oleh pelaku, barulah pelaku TR beraksi dengan melakukan pencabulan terhadap korban.

“Jadi 6 korban itu pelecehan atau tindakan pencabulannya tidak bersamaan. Satu per satu dan bergantian lain hari gitu,” katanya.

Awalnya orangtua 4 korban yang melaporkan ke polisi. Kemudian para korban ini akhirnya memberikan keterangan terkait kasus pencabulan itu. Karena masih dibawah umur, penggalian informasi ini juga melibatkan psikolog untuk lebih melakukan pendalaman. Dalam perkembangannya, tadinya hanya 4 korban, 2 korban lainnya akhirnya mau bersuara. Bahwa mereka menjadi korban kebiadaban pelaku yang saat ini berusia 28 tahun itu.

“Keterangan dari ahli atau psikolog itu, bahwa para korban ini dalam keadaan trauma,” ungkap Jeifson.

Berangkat dari hasil analisis psikolog itu, petugas kepolisian juga turun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk menggali keterangan. Sehingga satreskrim Polres Ponorogo bisa menyimpulkan bahwa ada alat bukti untuk menetapkan TR ini menjadi pelaku tindak pidana pencabulan.

Lebih lanjut, Jeifson menyebut bahwa tindak pidana pencabulan itu, dilakukan oleh TR tidak hanya sekali dalam rentang waktu satu tahun. Tidak ada ancaman terhadap korban, hingga akhirnya para korban mau mengadu kepada orangtuanya.

“Pelaku itu di perumahan itu kapasitasnya pengurus masjid. Sehingga orangtua korban merasa mempunyai beban moril, sehingga tidak berani melaporkan awalnya,” pungkasnya.(end/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar