Ponorogo (beritajatim.com) – Bencana tanah longsor kembali terjadi di Kabupaten Ponorogo. Kali ini terjadi di Dusun Gondangsari, Desa Banaran Kecamatan Pulung pada Sabtu (30/11) sore. Bencana tanah longsor itu dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut.
Material longsor selebar 30 meter dan tinggi 30 meter meluncur sejauh 75 meter hingga ke Sungai Banaran. Akibatnya, longsoran tanah itu, juga memutus akses jalan, antara Desa Banaran dan Desa Wagir Kidul di Kecamatan Pulung.
Tim gabungan dari BPBD, TNI-Polri, dan masyarakat setempat segera dikerahkan untuk menangani dampak longsor. Prioritas utama adalah membuka kembali jalan yang tertutup material longsor. Hal itu penting dilakukan untuk memulihkan distribusi logistik ke wilayah terdampak.
“Kami membersihkan material longsor secara bertahap. Namun, ini membutuhkan waktu karena material cukup tebal dan medan yang sulit,” kata Kepala Tim Reaksi Cepat BPBD Ponorogo, Suwito, Minggu (01/12/2024).
Suwito mengungkapkan bahwa pada tahun 2021 lalu, BPBD Ponorogo sudah mendeteksi adanya retakan tanah di lokasi bencana tanah longsor tersebut. Dia menyebut bahwa bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Banaran Kecamatan Pulung ini, mengancam keselamatan 11 rumah warga. Di mana dari jumlah itu, ada 6 rumah di atas mahkota longsor dan 5 lainnya di bawah tebing yang rawan runtuh.
Dengan curah hujan yang diperkirakan masih tinggi, potensi longsor susulan sangat besar. BPBD Ponorogo juga telah menyalurkan bantuan logistik dan mendirikan posko darurat untuk warga yang mengungsi. Pemkab Ponorogo berkomitmen memantau situasi secara intensif guna mencegah jatuhnya korban akibat bencana susulan.
“Dengan hujan deras yang terus mengancam, kami menghimbau masyarakat untuk selalu waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang demi menghindari risiko yang lebih besar,” pungkasnya. [end/aje]






