Pasuruan (beritajatim.com) – Kebijakan penghapusan batas usia kerja yang digagas pemerintah pusat memicu pro dan kontra di kalangan pelaku industri. Di Kabupaten Pasuruan, daerah dengan kawasan industri padat, komunitas HRD yang tergabung dalam HR Club Pasuruan menilai bahwa kebijakan ini penting untuk dilihat secara seimbang dari sudut pandang hak pekerja maupun kepentingan perusahaan.
Ketua HR Club Pasuruan, Wahyu Budi Priyanto, menyatakan bahwa secara prinsip, setiap individu memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pekerjaan layak tanpa diskriminasi usia. Ia menilai pendekatan berbasis kompetensi dan kecakapan harus menjadi fokus utama dalam proses rekrutmen.
“Semua orang berhak mendapatkan pekerjaan yang layak dan tidak dibatasi oleh usia tertentu. Hal ini sudah menjadi hal biasa di negara maju, karena yang terpenting yakni kecakapan dan kompetensi yang dimiliki pelamar,” ujarnya, Sabtu (14/6/2025).
Namun, Wahyu juga menegaskan bahwa dalam konteks industri dan manajemen sumber daya manusia, kebijakan tersebut tidak bisa dilepaskan dari tantangan nyata yang dihadapi perusahaan. Menurutnya, mayoritas perusahaan masih cenderung memilih lulusan baru (fresh graduate) karena dianggap lebih menguntungkan dalam jangka panjang.
“Fresh graduate merupakan aset perusahaan dan investasi jangka panjang. Karena pertimbangan dari sisi kesehatan, produktivitas, dan masa kerja yang bisa dijalani,” jelasnya.
Kendati demikian, ia juga mengakui bahwa pelamar kerja dari kalangan usia matang tidak selalu kalah saing. Apabila memiliki kompetensi, kesehatan yang memadai, dan produktivitas yang tinggi, mereka tetap memiliki peluang untuk bersaing secara adil.
“Jika memang pelamar memiliki kompetensi yang sesuai, produktivitas dan kesehatan yang bersangkutan akan jadi nilai positif dibanding calon karyawan muda,” tambahnya.
Wahyu menambahkan bahwa pelamar muda pun tidak luput dari kelemahan. Minimnya pengalaman kerja dan kendala pengendalian emosi kerap menjadi hambatan dalam proses adaptasi di lingkungan kerja.
“Kontrol emosi yang masih naik turun dan minim pengalaman akan menjadi penghambat,” tuturnya.
Karena itu, Wahyu menilai keputusan akhir akan kembali kepada masing-masing perusahaan dalam menyikapi kebijakan penghapusan batas usia kerja. Setiap pelamar akan terseleksi secara alami, tergantung pada kecocokan antara karakter individu dengan tantangan pekerjaan yang ditawarkan. [ada/beq]






