Bojonegoro (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro hingga Agustus 2022 belum mendapat permintaan pengiriman air bersih. Sehingga belum ada daerah rawan kekeringan di Bojonegoro yang kekurangan air bersih.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro Ardhian Orianto mengatakan, belum adanya permintaan distribusi air bersih dari masyarakat itu karena adanya fenomena La Nina sehingga berdampak pada kemarau basah.
“Artinya musim kemarau lebih pendek, Agustus biasanya sudah banyak permintaan droping air bersih, tahun ini baru sekali di pondok pesantren. Tapi tidak ada permintaan lagi,” ujarnya, Sabtu (13/8/2022).
Sementara diketahui, sesuai dengan data yang ada di BPBD Kabupaten Bojonegoro, tahun lalu 2021 jumlah daerah di Kabupaten Bojonegoro yang terdampak kekeringan ada delapan kecamatan di 17 desa, 29 dusun. Dengan jumlah Kepala Keluarga yang terdampak sebanyak 2.984 jiwa.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-bojonegoro”]
Adapun delapan kecamatan itu, Kecamatan Purwosari di dua desa yakni Pelem dan Tlatah, Kecamatan Tambakrejo di Desa Jatimulyo, Gamongan, Malingmati, Sukorejo, Ngrancang, dan Desa Bakalan. Kecamatan Dander Desa Sumodikaran.
Kecamatan Ngasem, di Desa Dukohkidul dan Desa Jelu, Kecamatan Sumberrejo Desa Margoagung dan Desa Butoh, Kecamatan Ngraho Desa Sugihwaras dan Nganti. Kecamatan Kasiman, Desa Kasiman, dan Kecamatan Ngambon Desa Sengon. [lus/ted]






