Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Himpunan Pengusaha Nahdiyin (HPN), Ubaidillah Amin (Gus Ubaid) mendukung ajakan Menko Marvest Luhut Binsar Pandjaitan untuk bercocok tanam di pekarangan rumah.
“Sedangkan, dalam hal ketahanan energi, menurut pribadi saya, sudah saatnya kita kembangkan industri panel surya secara massal, karena sinar matahari di Indonesia selalu ada setiap hari karena iklim tropisnya. Belum lagi teknologi energi listrik tenaga gelombang air laut, dimana Indonesia sebagai negara kepulauan dikelilingi laut. Intinya kita sudah waktunya melakukan terobosan di bidang energi dan pangan sebagai kekuatan pilar ekonomi dunia,” tegas Gus Ubaid yang juga Sekjen Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Santri (LPES) ini, Selasa (4/10/2022).
Menurut dia, pandemi Covid-19 yang terjadi dua tahun lebih menerpa dunia dampaknya sangat serius dan tiada terkira memukul hampir semua sektor, mulai ekonomi, industri dan lain sebagainya. Tak terkecuali negara Indonesia.
[berita-terkait number=”5″ tag=”gus-ubaid”]
“Namun, jika kita kembalikan ke dasar beragama, bahwa setiap musibah selalu ada hikmahnya bagi kita yang mau memikirkannya. Belajar dari dampak pandemi global kemarin, kita melihat peluang strategis bagi keberlangsungan tatanan kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya bernegara. Belum selesainya secara tuntas pandemi, saat ini negara-negara di dunia dihadapkan masuk resesi ekonomi di tahun 2023, kekurangan pangan dan energi mengancam penduduk dunia,” jelasnya.
Ini salah satunya, lanjut dia, dampak dari invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina, yang mana Ukraina dan Rusia adalah salah satu negara pemasok energi dan pangan terbesar bagi penduduk bumi.
“Melihat dari itu semua, sudah sepatutnya pula kita sebagai salah satu negara tropis dan agraris di dunia ini bisa segera menata kembali ketahanan pangan dan ketahanan energi kita sejalan dengan arahan Presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan,” tuturnya.
“Dalam hal menata dan menciptakan ketahanan pangan Indonesia sangat bisa segera melaksanakannya, dimana SDM masyarakat pedesaan kita andal dalam pengolahan tanaman pangan meskipun masih dengan cara-cara konvensional. Mungkin sedikit sentuhan dengan ahli pertanian kita bisa lakukan modifikasi rekayasa genetik,” pungkasnya. (tok/kun)






