Ringkasan Berita
- Koppem Raharja dan HKTI Kediri mengelola 2.000 hektar lahan tebu.
- Tebu petani diolah menjadi gula merah untuk kebutuhan industri pangan.
- Program hilirisasi dinilai mampu meningkatkan harga jual tebu petani.
- Menteri Koperasi RI mengapresiasi model kemitraan koperasi dan petani.
Kediri (beritajatim.com) – Program hilirisasi tebu Kediri terus diperkuat melalui kolaborasi antara Koperasi Pemasaran Putra Harapan Jaya (Koppem Raharja) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Kediri. Kemitraan tersebut mengelola sekitar 2.000 hektar tanaman tebu untuk mendukung swasembada pangan sektor gula sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Model kerja sama ini menghubungkan petani tebu dengan industri pengolahan gula merah sehingga hasil panen dapat langsung diserap dan diolah menjadi produk bernilai tambah yang dibutuhkan industri pangan.
Koperasi Kelola 2.000 Hektar Tanaman Tebu
Ketua Koppem Raharja, Desi Permatasari, menjelaskan hingga saat ini pihaknya telah merancang pengelolaan sekitar 2.000 hektar lahan tebu yang tersebar di Kediri dan wilayah sekitarnya.
Melalui kerja sama dengan HKTI Kabupaten Kediri, koperasi berperan dalam menghimpun hasil panen petani untuk selanjutnya diproses menjadi gula merah sebagai bahan baku industri pengolahan.
“Total ada dua ribu hektar tanaman tebu yang sudah kami rancang,” tegas Desi.
Menurutnya, keterlibatan koperasi dalam rantai pasok pertanian memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus memperkuat posisi tawar mereka dalam penjualan hasil panen.
Hilirisasi Dinilai Pangkas Rantai Distribusi
Ketua HKTI Kabupaten Kediri, Sumadianto, menilai pola hilirisasi yang diterapkan mampu memberikan keuntungan lebih besar bagi petani dibandingkan sistem perdagangan konvensional.
Melalui skema tersebut, hasil panen tebu tidak lagi bergantung pada rantai distribusi yang panjang karena langsung terserap oleh industri pengolahan.
“Program hilirisasi ini bekerja sama dengan Koppem Raharja dan industri gula merah. Diharapkan menguntungkan petani karena harga dari petani lebih tinggi dan langsung diserap industri,” ujarnya.
Ia menambahkan, model ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan petani terhadap perantara atau tengkulak sehingga margin keuntungan dapat dinikmati langsung oleh petani.
Didukung Varietas Tebu Unggul
Selain memperkuat akses pasar, program ini juga didukung penggunaan varietas tebu unggul seperti Cening dan Panjalu.
Varietas tersebut dinilai memiliki produktivitas tinggi dan mampu dipanen hingga tiga kali dalam kurun dua tahun.
Dengan produktivitas yang lebih baik, petani berpeluang meningkatkan hasil panen sekaligus memperkuat pendapatan mereka secara berkelanjutan.
Penerapan varietas unggul juga menjadi bagian penting dalam mendukung target peningkatan produksi gula nasional.
Menteri Koperasi Apresiasi Kemitraan Petani dan Koperasi
Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantono, memberikan apresiasi terhadap program hilirisasi yang dijalankan Koppem Raharja bersama HKTI Kabupaten Kediri.
Menurutnya, model kemitraan tersebut menjadi contoh konkret bagaimana koperasi dapat berperan dalam memperkuat sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Saya sangat mengapresiasi kinerja Koppem Raharja yang berkolaborasi dengan HKTI Kabupaten Kediri dalam mengelola ribuan hektar tanaman tebu untuk diproses menjadi produk gula merah,” kata Ferry.
Ia menilai kolaborasi tersebut tidak hanya menguntungkan petani melalui harga jual yang lebih layak, tetapi juga memperkuat pertumbuhan industri pengolahan berbasis komoditas lokal.
Perkuat Hilirisasi Industri Pangan
Ferry menjelaskan bahwa hilirisasi tebu tidak berhenti pada proses produksi gula merah saja.
Produk gula merah yang dihasilkan selanjutnya dapat menjadi bahan baku bagi berbagai industri pangan, termasuk industri kecap dan produk penyedap makanan lainnya.
Dengan demikian, rantai nilai komoditas tebu menjadi lebih panjang dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi seluruh pelaku usaha yang terlibat.
“Ini sangat luar biasa. Dengan program seperti ini kami siap mendukung untuk kesejahteraan petani,” tegasnya.
Dukung Swasembada Gula Nasional
Kolaborasi antara koperasi, petani, dan industri pengolahan ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat swasembada pangan, khususnya di sektor gula.
Melalui hilirisasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, petani memperoleh kepastian pasar, industri mendapatkan pasokan bahan baku yang stabil, dan masyarakat memperoleh manfaat dari meningkatnya produksi dalam negeri.
Model yang dikembangkan di Kabupaten Kediri ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun ekosistem pertanian yang lebih produktif, efisien, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani. [nm/ted]






