Sebagai pemain, Steven Gerrard memiliki dua wajah untuk dikenang. Satu sisi adalah karisma dan kepemimpinannya membawa Liverpool melewati malam final Liga Champions 2005 di Turki yang dikenang sebagai ‘Keajaiban Istanbul’.
Di sisi lain, dia dikenang karena kesialannya terpeleset dan kehilangan bola saat pertandingan menentukan melawan Chelsea pada musim 2013-14, membuat Liverpool gagal meraih trofi Liga Inggris pertamanya sejak 1990.
Namun Gerrard adalah sedikit pemain bintang yang sukses menjadi pelatih tim utama klub level atas. Adam Thornton dalam buku Gerrard’s Blueprint: The Tactical Philosophy Behind Rangers 55th Title Triumph yang terbit pada 2022 menceritakan bagaimana kiprah Gerrrad sebagau manajer Glasgow Rangers.
Ketika Mark Allen, direktur sepak bola Rangers, pertama kali menyebut nama Steven Gerrard sebagai calon manajer, Ketua Rangers Dave King langsung berpikir soal pengalaman. Gerrard belum pernah menjadi manajer sepak bola. Namun di luar urusan pengalaman, Gerrard memenuhi semua kualifikasi, mulai dari kemampuan berkompetisi, mentalitas pemenang, dan tahu apa yang diperlukan untuk menang.
Sebenarnya Gerrard bukannya tanpa pengalaman sama sekali. Posisi di Rangers memang pengalaman pertamanya sebagai manajer tim utama. Namun sebelumnya ia telah memiliki beberapa kesempatan untuk mencicipi dunia kepelatihan.
Gerrard sempat melakukan pembicaraan awal untuk mengambil alih posisi manajer Milton Keynes Dons pada November 2016. Namun akhirnya dia membatalkannya.
Pengalamannya menangani tim U-18 Liverpool membuatnya belajar dan beradaptasi dengan cepat sebagai pelatih dan manajer. Namun pada akhirnya pengalamannya sebagai kapten Liverpool, terutama perannya mengangkat moral tim dalam episode ‘Keajaiban Istanbul’ yang berujung pada sebuah trofi Eropa, membuatnya lebih siap untuk menjadi pelatih.
King mengumumkan penunjukan Gerrard kepada media pada 4 Mei 2018. Dan sejak bulan-bulan pertama Gerrard di Ibrox, terlihat jelas betapa besar pengaruh “DNA Liverpool” terhadap pandangannya dan staf kepelatihannya mengenai sepak bola.
Wajar saja,. Gerrard sudah bermain dan hidup dalam sistem Liverpool selama hampir 30 tahun sebagai pemain muda, pemain senior, dan kapten. “Filosofi saya dibangun dari DNA Liverpool dan pengalaman berada di sekitar para pemain internasional terbaik,” katanya.
Dua belas tahun pertama Gerrard sebagai pemain profesional di Liverpool dihabiskan di bawah bimbingan dua ahli taktik Gérard Houllier dan Rafa Benítez. Houllier berjasa mendaratkan mini treble di Anfield (Piala UEFA, Piala FA, dan Piala Liga). Sementara Benitez akan dikenang karena keberhasilannya membalik ketertinggalan 0-3 dari AC Milan dalam final Liga Champions 2005 menjadi kemenangan adu penalti.
Gerrard mengaku telah mengambil pelajaran dari Rafa Benitez, Brenda Rodgers, Gérard Houllier, dan Roy Hodgson. Dan selama menjalani karier sebagai pemain sepak bola, berbagai formasi, sistem, dan cara bermain sudah dijajal.
Dari Rafa, Gerrard belajar bagaimana saat sebuah tim tidak menguasai bola. Opsi sistem pertahanan blok rendah atau menengah tergantung pada lawan yang dihadapi. Dia belajar banyak dari Brendan Rodgers, pelatih Liverpool yang nyaris mengakhiri puasa gelar Liverpool, dan pelatih timnas Inggris Sven-Göran Eriksson soal gaya dan bagaimana permainan terlihat, bermain dari lini ke lini, dan membangun serangan dari belakang.
Namun Gerrard ingin memiliki tim yang menarik dalam bermain, karena ingin suporter bertahan lama mendukung timnya. Dan oleh sebab itu dia selalu berpegang pada DNA Liverpool yang berbasis penguasaan bola dan lapangan.
Gerrard percaya kesetiaannya terhadap nilai-nilai dan DNA yang dibangun di Liverpool akan membuahkan hasil manis di Glasgow Rangers. Prinsip sepak bolanya adalah memainkan sepak bola satu sentuhan, mengalirkan bola dengan cepat, serta bermain dengan tempo dan intensitas.
Ketika tim kehilangan bola, Gerrad menginstruksikan anak-anak asuhnya untuk tetap berada dalam struktur yang rapat. Jika menerapkan struktur tekanan tinggi, seluruh tim harus tetap selaras ketika tekanan dimulai.
Filosofi ini mengharuskan kekompakan tim yang rapat dan bergerak mengelilingi lapangan dalam unit-unit untuk memastikan cakupan maksimal apabila tekanan gagal dan lawan memanfaatkan kesempatan untuk menyerang.
Pendekatan pressing dan counter-pressing terpadu dan disiplin yang diterapkan Gerrard di Glasgow Rangers mirip dengan gaya gegenpressing Jürgen Klopp, terutama dalam hal agresivitas memburu bola secara berkelompok untuk berusaha merebutnya kembali dengan cepat setelah kehilangan penguasaan.
“Satu hal yang saya pelajari dari Jürgen adalah berusaha mengambil jarak dari diri sendiri dan lebih seimbang dalam menyikapi hasil,” katanya. Tidak seperti Jurgen, dia lebih emosional.
Namun Gerrard tahu: seorang manajer sepak bola harus menjadi diri sendiri. Selama menjadi pemain Liverpool dan timnas Inggris, dia menjadi spons yang nenyerap semua ilmu taktik para pelatih. Saat menjadi pelatih, dia sadar sebuah filosofi harus diterapkan di lapangan dengan memperhatikan banyak aspek, termasuk aspek klub dan liga.
Gerrard dituntut memahami tradisi klub seperti Glasgiw Rangers, dan terus-menerus mempertimbangkan tuntutan para suporter serta bagaimana cara bermain tim harus selaras dengan tuntutan tersebut.
Fondasi sepak bola Rangers sangat jelas: memainkan sepak bola menyerang dan agresif yang dipadukan dengan kegigihan, kerja keras, dan determinasi. Suporter menolak sebuah tim yang bermain defensif lalu berusaha melakukan serangan balik.
Melalui buku ini, Thornton menceritakan detail pengaruh dan visi taktik, tim manajemen, dan mentalitas maupun karakter yang dibawa Gerrard, terutama pada saat sepak bola tengah dilanda pandemi Covid. Gerrad membawa evolusi peran pemain dan taktik, mulai dari penjaga gawang, bek sayap sebagai pengatur serangan, posisi nomor delapan yang bebas, hingga penyerang hibrida.
Hasilnya? Gerrard hanya tiga tahun menjadi manajer Glasgow Rangers (2018-2021). Namun dia menghentikan dominasi Glasgow Cektic yang berambisi meraih sepuluh gelar juara Liga Skotlandia secara beruntun pada musim 2020-21. Ini gelar liga pertama Rangers sejak 2011.
Gerrard membawa Rangers tak terkalahkan dalam 38 pertandingan liga musim itu (32 kali menang, 6 kali seri). Gelar juara ini membangkitkan kepercayaan pendukung klub, setelah sempat Rangers sempat memulai kompetisi dari kasta terbawah Liga Skotlandia pada 2012 akibat krisis keuangan dan likuiditas perusahaan lama.
Sebagaimana kata Dave King: Gerrard tahu apa yang diperlukan untuk menang. [wir/aje]






