Malang (beritajatim.com) – Sesibuk dan sepadat apapun aktivitas yang mesti dilakoni, gowes mountain bike (MTB) tetap dijalani Dr Ir Heru Tjahjono, MM secara ajeg dan konsisten. Baik saat menjabat Bupati Tulungagung (2003-2008 dan 2008-2013) maupun ketika memangku jabatan Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jatim tahun 2018-2022.
“Gowes itu bagian penting untuk menjaga dan memelihara kesehatan,” kata Heru Tjahjono kepada beritajatim.com pada satu kesempatan di rumahnya di Kota Malang, seperti ditulis pada Senin (11/9/2023).
Mens sana in corpore sano (Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat). Tagline kesehatan dalam bahasa Latin itu dipercaya dan dipegang teguh Heru. Saat menjabat sebagai Bupati Tulungagung selama 10 tahun, birokrat dan politisi Partai Golkar yang kini sedang berjuang sebagai caleg DPR RI dari Dapil VI Jatim ini tak pernah melupakan olahraga untuk menjaga kesehatan dan kebugaran fisiknya.
“Saat (sebagai Bupati) di Tulungagung, saya gowes tiga kali seminggu,” ungkapnya.
Frekuensi gowes MTB tiga kali seminggu itu menempuh jarak sekitar 60 kilometer (Km). Saat itu usia Heru belum menginjak 50 tahun. Sehingga jarak tempuh sejauh itu mampu dilalap dengan baik dalam tempo tak terlalu lama.
“Gowes itu olahraga yang kental nuansa rekreasi dan hiburannya. Sebab, dengan gowes bareng kita bisa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan rekan lainnya sesama goweser. Bahasa populernya, tambah jalur tambah dulur,” ungkapnya.

Tagline tambah jalur tambah dulur merupakan narasi populer di kalangan goweser. Terlebih bagi klub gowes yang sering bergowes bareng ke luar kota.
“Saat tugas di Tulungagung, rute gowes saya dari desa ke desa. Seluruh desa di Tulungagung yang jumlahnya sebanyak 271 desa dan kelurahan yang tersebar di 19 kecamatan telah saya jelajahi dengan gowes. Itu pengalaman yang menyenangkan dan menyehatkan,” tegas mantan Sekdaprov Jatim kelahiran Kota Yogyakarta, 6 Maret 1961.
Merujuk pada referensi yang ada, gowes dengan MTB berimplikasi pada pemeliharaan dan peningkatan kualitas kesehatan seseorang. Manfaat gowes MTB di antaranya, meningkatkan kebugaran kardiovaskular, meningkatkan kinerja otak, melatih tubuh secara komprehensif, memperbaiki kesehatan mental, dan manfaat bersosialisasi.
“Gowes itu lebih enak kalau bersama-sama. Ada grup gowes. Saat di Tulungagung, saya bergabung dengan klub gowes Guyub Rukun Cycling Club (GRCC),” ungkapnya.
Sebagai orang pertama di Pemkab Tulungagung pada tahun 2003 hingga 2013, setiap tiga bulan sekali Heru dan klub gowesnya menggelar event gowes bareng. “Ibaratnya, sesuai bunyi pantun Tanjung Perak tepi laut siapa suka boleh ikut. Gowes bareng ini biasanya diikuti sekitar 1000 peserta,” jelasnya.
Klub gowes ini tak hanya gowes bareng di wilayah Tulungagung dan sekitarnya, seperti Kabupaten Kediri, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Blitar, dan daerah lainnya. Heru mengutarakan, klub gowes itu tak jarang gowes bareng keluar kota dan ke titik lokasi wisata terkenal di Jatim, seperti Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo.
“Saya bersama goweser GRCC pernah gowes dari Wonokitri turun ke lautan pasir Gunung Bromo dan naik lagi sampai di Ngadisari. Itu pengalaman menarik dan banyak tantangan. Ketahanan fisik dan kecekatan kita mengendalikan MTB benar-benar diuji,” katanya.

“Setelah pensiun saya lebih banyak di Kota Malang. Biasanya saya gowes dari Malang Kota ke kawasan Paralayang,” tambahnya.
Dalam perspektif kesehatan, bersepeda (gowes) termasuk ke dalam jenis olahraga kardio yang berfungsi menjaga kesehatan jantung, paru-paru, dan memperlancar sirkulasi darah. Dengan bersepeda secara rutin, kadar lemak dalam darah menurun sehingga berefek positif penderita tekanan darah tinggi. Bersepeda secara rutin dan konsisten bisa membentuk daya tahan tubuh, memperkuat otot, dan diyakini dapat membakar 400 hingga 500 kalori.
Ada dua jenis sepeda yang terkenal di masyarakat yakni Mountain Bike (MTB) dan Road Bike (RB). MTB merupakan jenis sepeda yang diperuntukkan untuk medan terjal. Karena itu, secara fisik MTB memiliki bentuk fisik rangka lebih besar untuk menahan guncangan dan dilengkapi dengan suspensi pendukung. Dengan menggunakan sepeda gunung, karena berjalan di medan yang lebih terjal dan bervariasi, hal tersebut melibatkan banyak bagian otot yang berperan.

Dengan demikian, tubuh memerlukan oksigen yang lebih banyak untuk dapat menjalankan otot-otot melewati medan yang sulit. Sepeda MTB lebih efektif dalam membantu tubuh menjalankan otot ketika bersepeda.
“Hobi dan kebiasaan bersepeda, baik MTB maupun RB, mesti terus digalakkan. Seperti saat pandemi lalu, luar biasa banyaknya warga yang bersepeda. Bahkan, beli sepeda saja sampai antre dan inden. Kondisi itu tak pernah terjadi di waktu sebelumnya. Dengan bersepeda, manfaat kesehatan langsung kita dapat dan yang pasti tak mengakibatkan pencemaran lingkungan hidup,” kata Heru mengingatkan. [air]






