Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia (PP PII), Andira Reo Putra mengatakan, keluarga besar PII sangat kehilangan Hermanto Dardak. Almarhum adalah mantan Ketua Umum PII tahun 2015-2018.
“Pak Hermanto Dardak yang panggilannya Pak Anto atau Mas Anto, sangat dekat dengan sahabat-sahabat PII seluruh Indonesia. Setiap turun ke daerah-daerah pasti menghubungi teman-teman PII, walau beliau sudah tidak menjabat lagi sebagai ketum,” kata Andira kepada beritajatim.com, Sabtu (20/8/2022).
Menurut dia, Hermanto Dardak yang merupakan ayah Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak itu adalah sosok penting dan masih dipercaya memimpin Tim Pembangunan IKN Kementerian PUPR.
“Pak Hermanto merupakan guru dan bapak bagi saya dan sahabat PII lainnya, sejak beliau menjadi Dirjen, hingga Wakil Menteri dan sampai hari ini. Almarhum sangat dekat dengan para anak muda dan mereka yang berjiwa muda,” tuturnya.
“Pak Hermanto selalu memberikan gagasan pembangunan infrastruktur, terutama bidang spesialnya beliau ada di dunia tata kota dan transportasi. Dan, beliau mendapatkan penghargaan penting yaitu International Road Federation (IRF) Professional of The Year 2014,” pungkasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”emil-elestianto-dardak”]
Sekadar diketahui, Achmad Hermanto Dardak, putra kelahiran Trenggalek, 9 Januari 1957, dari pasangan KH Mochamad Dardak dan Siti Mardiyah. Hermanto menempuh studi di Trenggalek hingga lulus dari SMA Negeri 1 Trenggalek, dan selanjutnya diterima di jurusan teknik sipil ITB. Seusai lulus Hermanto meniti karir sebagai PNS di Kementerian Pekerjaan Umum. Karir Hermanto melesat hingga menjadi Kepala Biro KLN di usia 38 tahun, dan selanjutnya menjadi Dirjen Penataan Ruang dan berperan melahirkan UU Penataan Ruang 2007. Hermanto kemudian diamanahi sebagai Dirjen Bina Marga dan diantaranya berperan menuntaskan pembangunan jembatan Suramadu, mengatasi banjir tol bandara Soetta dengan pembangunan jalur tol elevated. Hermanto mencapai puncak karirnya saat diamanahi sebagai Wakil Menteri Pekerjaan Umum periode 2009-2014, dimana dalam kapasitas tersebut Hermanto berperan menginisiasi berbagai rintisan infrastruktur strategis seperti bendungan, jalan tol trans Sumatra melalui konsep penugasan (Hermanto menjabat komisaris utama Hutama Karya periode 2007-2014). Pasca menjabat Wakil Menteri, Hermanto mendapat tugas khusus untuk merintis pendirian Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) dibawah Kementerian PUPR.
Prestasi Hermanto yang merupakan lulusan doktor dari University of New South Wales Australia telah mendapat pengakuan internasional. Hermanto menjadi orang Indonesia pertama yang memperoleh penghargaan bergengsi Professional of the Year dari International Road Federation. Hermanto Dardak juga menjadi ketua organisasi permukiman internasional EAROPH, dan memimpin REAAA (Road Engineering Association for Asia and Australiasia).
Di dunia keinsinyuran, Hermanto mendapat amanah memimpin sebagai Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia periode 2015-2018, dan turut membidani lahirnya UU Keinsinyuran dan pembangunan menara Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Atas segala pengabdiannya untuk profesi dan pemerintahan, Hermanto memperoleh penghargaan Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2014.
Saat ini, Hermanto Dardak dipercaya sebagai ketua tim pengarah pembangunan infrastruktur Ibu Kota Negara (IKN) Kementerian PUPR dan turut berperan menentukan titik nol IKN. Hermanto meninggal dunia di Pekalongan dalam perjalanan seusai menghadiri seminar mengenai pemindahan ibukota negara di Semarang. Hermanto meninggalkan seorang istri, Sri Widayatie, dan 3 orang anak, Emil Elestianto Dardak (Wakil Gubernur Jawa Timur), Amila Alistiawati dan Eron Ariodito. Putra ketiga Hermanto, Eril Arioristanto Dardak telah meninggal dunia sebelumnya pada tahun 2018. [tok/but]







