Jember (beritajatim.com) – Teriakan ‘merdeka’ dan kutipan kata-kata Bung Karno sama-sama dilontarkan dua calon bupati, Hendy Siswanto dan Muhammad Fawait, pada saat berpidato, dalam acara rapat pleno terbuka pengundian nomor urut pasangan calon kepala daerah dan wakilnya, di aula Stikes Universitas dr. Soebandi, Senin (23/9/2024) malam.
Pasangan petahana Hendy Siswanto dan Muhammad Balya Firjaun Barlaman bersama pendukungnya kompak hadir dengan mengenakan pakaian koko warna putih dan sarung berwarna merah. Sementara untuk pendukung perempuan mengenakan pakaian warna putih.
Pasangan Muhammad Fawait dan Djoko Susanto bersama pendukungnya kompak mengenakan pakaian warna merah muda. Jumlah mereka lebih banyak dibandingkan pendukung Hendy-Firjaun yang hadir.
Setelah diundi, Hendy-Firjaun yang diusung PDI Perjuangan mendapat nomor urut 1. Sementara Fawait-Djoko yang diusung koalisi tujuh parlemen dan tujuh partai nonparlemen mendapat nomor urut 2.
Saat mendapat kesempatan memberikan sambutan, Hendy dan Firjaun menggunakan waktu kurang lebih dua menit 23 detik untuk berpidato.
“Masyarakat Jember adalah masyarakat yang luar biasa. Tiga setengah tahun memimpin Jember sungguh luar biasa. Izinkan saya bersama Gus Firjaun untuk melanjutkan sekali lagi,” kata Hendy.
“Bung Karno pernah berkata: ‘jika kita memiliki keinginan yang kuat di dalam hati, maka seluruh alam semesta akan bahu-membahu mewujudkannya’. Kami percaya bahwa alam semesta senantiasa merespons niat baik dengan kebaikan yang tentunya berlipat ganda,” lanjut Hendy.
“Bersama seluruh rakyat Jember, Ji Hendy dan Gus Firjaun akan terus berhikmat untuk mewujudkan banyak kebaikan untuk masyarakat,” kata Hendy.
Firjaun kemudian melanjutkan pidato layaknya seorang ulama. “Pilkada adalah istibaq fil khairat. Berlomba-lomba untuk meraih kebaikan. Wa Khoirunnas anfa’uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Namanya paling itu adalah nomor…,” kata putra ulama KH Achmad Siddiq ini disambut pendukungnya dengan meneriakkan kata ‘satu’.
Hendy kemudian menutup pidatonya dengan pantun. “Paseban-Puger banyak pesantren. Ahli fikihnya tersohor bermutu. Lanjutkan visi Jember keren. Wes wayahe pilih nomor satu. Merdeka! Allahu akbar,” serunya..
Sementara itu, Fawait mengawali sambutannya dengan bersalawat yang diikuti pendukungnya. “Ojo lali moco sholawat. Semua karena cinta. Takbir. Takbir. Takbir. Merdeka. Merdeka. Merdeka,” katanya.
“Saudara, Bung Karno dawuh. Kalau beliau dikasih sepuluh pemuda, akan diubah dunia ini. Maka untuk Jember cukup satu pemuda yang akan mengubah Jember lebih baik lagi. Takbir,” kata Fawait.
“Kami datang untuk membawa cinta, Saudara-Saudara. Kita tahu kemiskinan di Jember makin lama makin meningkat. Pengangguran di Jember makin lama makin meningkat. Kemiskinan, ketimpangan, makin tinggi. Cukup beri kesempatan kami lima tahun, kita bikin Jember lebih baik,” kata Fawait.
“Guru ngaji harus diperhatikan. Guru Madin (Madrasah Diniyah) harus diperhatikan. Pengasuh pondok pesantren harus diperhatikan. Petani harus diperhatikan. Pedagang kaki lima, pedagang informal, UMKM harus diperhatikan. Merdeka, merdeka, merdeka. Takbir, takbir, takbir,” kata Fawait.
Fawait mengajak pendukungnya untuk selalu bersalawat. “Terima kasih. Diejek, dijelekin, disenyumin, salawatin saja. Semua karena cinta,” katanya.
Sementara itu, Djoko Susanto mengingatkan peran anak muda dalam kemerdekaan Indonesia. “Indonesia merdeka, Indonesia dimerdekakan oleh anak muda. Di sini saya berdiri untuk mengantarkan anak muda menjadi pemimpin,” katanya. [wir]






