Jakarta (beritajatim.com) – Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas yang beroperasi di perairan Madura, Jawa Timur, menandatangani perjanjian komersial dengan PT Lestari Nasional Gas pada ajang Indonesian Petroleum Association (IPA) 2025, yang bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2025.
Perjanjian tersebut ditandatangani oleh General Manager HCML Kang An dan menyangkut suplai gas bumi dari Lapangan BD dengan volume awal sebesar 2,5 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day) pada 2025, yang ditargetkan meningkat menjadi 5 MMSCFD pada periode 2026 hingga 2032.
“HCML akan menyediakan gas bumi yang akan didistribusikan PT Lestari Nasional Gas sesuai dengan angka yang telah disepakati,” ujar Manager Regional Office and Relation HCML, Hamim Tohari.
Selain itu, kerja sama ini juga meliputi pemanfaatan fasilitas Mini LNG (Liquefied Natural Gas), yaitu teknologi pengubah gas alam menjadi gas cair untuk penyimpanan dan distribusi yang lebih fleksibel, terutama ke wilayah yang tidak terjangkau jaringan pipa.
Hamim menyatakan bahwa penandatanganan perjanjian pada momen Hari Kebangkitan Nasional memiliki makna simbolis. “Semoga ini menjadi pertanda bahwa kebangkitan industri migas menyongsong perubahan zaman yang makin dinamis diawali dari ujung timur Jawa,” ujarnya.
HCML saat ini mengoperasikan tiga lapangan migas utama, yaitu Lapangan BD, 2M (MDA-MBH), dan MAC. KKKS ini tercatat sebagai produsen gas terbesar di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, dengan kontribusi mencapai 35 persen dari total produksi gas di kedua wilayah tersebut.
Sejak awal pengembangan, Lapangan BD ditargetkan memproduksi gas sebesar 100 MMSCFD dan kondensat sekitar 6.000 BCPD (Barrel Condensate per Day), dengan dukungan infrastruktur pipa bawah laut sepanjang 53 km yang menghubungkan Sampang dan Pasuruan.
Adapun Lapangan MDA-MBH ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gas dalam negeri dengan kapasitas produksi sesuai dengan Plan of Development (POD) sebesar 120 MMSCFD. Gas dari lapangan ini disalurkan melalui jaringan pipa dan terintegrasi dengan East Java Gas Pipeline (EJGP). Sementara itu, Lapangan MAC memiliki kapasitas produksi 50 MMSCFD, dengan realisasi penjualan per 30 April 2025 mencapai 38 MMSCFD. [rea/beq]






