Malang (beritajatim.com) – Dalam rangka pelaksanaan Hibah Kelompok Kajian Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan dan Bioteknologi 2024, tim Sekolah Pascasarjana (SPUB) Universitas Brawijaya melakukan penelitian terkait pengelolaan sampah domestik dan kondisi Sungai Brantas. Tim SPUB, yang diketuai oleh Wresti Listu Anggayasti, Ph.D., mengkaji lebih jauh dampak pengelolaan sampah terhadap kualitas Sungai Brantas, dengan fokus utama pada mikroplastik.
Wresti menjelaskan, sebagai hulu Sungai Brantas, wilayah Malang Raya memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan sungai terbesar di Jawa Timur tersebut. “Sungai Brantas menjadi sumber air utama di wilayah Jawa Timur, tetapi saat ini statusnya cemar berat. Limbah industri dan sampah domestik menjadi penyebab utamanya,” ujar Wresti.
Ia juga menyoroti masalah mikroplastik. “Pada 2023, kami menemukan tingginya penggunaan plastik sekali pakai di salah satu kelurahan. Hal ini berpotensi meningkatkan volume sampah plastik, yang sebagian besar berakhir di sungai. Akibatnya, masyarakat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas terdampak, baik langsung maupun tidak langsung, mengingat Indonesia adalah konsumen mikroplastik terbesar kedua di dunia,” tambahnya.
Penelitian ini melibatkan dua pendekatan utama. Tim mahasiswa menggali persepsi masyarakat lintas usia dan pekerjaan melalui kuesioner dan wawancara terstruktur untuk mengetahui pengetahuan, preferensi, serta cara warga mengelola sampah plastik.
Sementara itu, tim dosen mengukur kualitas air Sungai Brantas dengan menganalisis partikel mikroplastik per liter air dan memeriksa keberadaan makroinvertebrata di tiga lokasi kelurahan. Data ini digunakan untuk memetakan status pencemaran sungai dan kaitannya dengan perilaku masyarakat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% responden di hilir Sungai Brantas masih membuang sampah langsung ke sungai. Hal ini sejalan dengan tingginya kadar mikroplastik di area tersebut, yakni hampir 16 partikel per liter air sungai. Selain itu, jumlah makroinvertebrata yang ditemukan sangat sedikit, mencerminkan buruknya daya dukung lingkungan bagi kehidupan organisme akuatik.
“Jika di bagian Kota Malang saja kondisinya sudah seperti ini, kita bisa bayangkan apa yang terjadi di daerah hilir hingga Pantai Utara Jawa. Sungai Brantas membutuhkan kajian lebih lanjut untuk merumuskan kebijakan terintegrasi yang fokus pada perubahan perilaku masyarakat,” ungkap Wresti.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal terindeks Scopus Q3, dan tim SPUB berkomitmen untuk melanjutkan penelitian terkait Sungai Brantas. “Kami berharap hasil ini menjadi langkah awal dalam menjaga kesehatan dan kelestarian Sungai Brantas, yang merupakan sungai terbesar dan terpenting di Jawa Timur,” pungkasnya.
Dengan tingginya tingkat pencemaran dan rendahnya kesadaran masyarakat, penelitian ini diharapkan mampu menjadi landasan bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengambil tindakan nyata dalam melindungi Sungai Brantas. Penanganan mikroplastik serta pengelolaan sampah domestik yang lebih baik akan menjadi kunci untuk mengurangi pencemaran sungai yang strategis ini.
Penelitian ini melibatkan 7 dosen, 3 mahasiswa S2 Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan dan Pembangunan (PSLP), serta 1 mahasiswa S3 Ilmu Lingkungan (PDIL), dan berfokus di tiga kelurahan Kota Malang, yakni Dinoyo, Tlogomas, dan Kotalama. Penelitian ini menjadi tindak lanjut dari hasil temuan Hibah Kelompok Kajian 2023 di Kelurahan Dinoyo terkait kebiasaan masyarakat dalam menangani sampah domestik. (dan/but)






