Malang (berijatatim.com) – Raut sumringah terpancar dari wajah puluhan siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang di hari pertama mereka, Senin (14/7/2025), di BPSDM Jatim Kampus Kawi Malang. Senyum bangga bercampur lega juga terlihat jelas dari para orang tua yang mengantar anak-anak mereka dari berbagai penjuru Malang, berharap program ini menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih cerah.
Hari pertama di SRMA 22 diawali dengan apel pagi yang khidmat, dilanjutkan dengan sarapan gratis yang telah disiapkan. Tak hanya itu, para siswa juga menjalani pengecekan kesehatan sebagai bagian dari persiapan mereka menempuh pendidikan di sekolah berasrama ini. Meskipun sebagian siswa sudah mengenakan seragam putih-biru, terlihat beberapa masih memakai baju bebas seperti hitam atau bahkan pink, menandakan proses adaptasi di hari-hari awal.
Dwiyono, orang tua siswa dari Pagelaran, Malang, mengungkapkan kelegaannya. “Kemarin sempat bingung mau lanjut SMA, untungnya lolos Sekolah Rakyat ini. Saya pasrah dan ikhlas anak saya di sini, di asrama,” ujarnya. Dwiyono merasa sangat terbantu dengan adanya program ini.
Asrama SRMA 22 telah siap digunakan, dengan berbagai fasilitas tertata rapi. Para siswa akan mendapatkan fasilitas sekolah, seragam, makan dan asrama, perlengkapan ibadah, perlengkapan sekolah, perlengkapan mandi, dan perlengkapan asrama. Bahkan, perlengkapan pribadi seperti alat mandi dan kebutuhan harian lainnya juga akan dipenuhi.
Widya, siswa SRMA 22 yang sebelumnya bersekolah di SMPN 6 Malang, menyampaikan rasa terima kasihnya. “Saya berterima kasih kepada pemerintah yang telah menyediakan program ini,” tuturnya. Senada dengan Widya,
Agung, siswa jebolan SMPN 28, merasa sangat terbantu dan termotivasi untuk lebih disiplin. “Saya jadi perwakilan siswa yang pertama menerima fasilitas pribadi, berupa alat mandi, itu sangat membantu. Katanya nanti dapat laptop, semoga saja, saya dan keluarga saya sangat terbantu,” ungkap Agung penuh harap.
Rahmah Dwi Nor Wita Imtikhanah, S.Pd, M.Sc, Kepala Sekolah SRMA 22 Malang, menjelaskan bahwa sekolah ini menampung 75 siswa yang terbagi dalam 3 rombongan belajar, dengan masing-masing rombongan berisi 25 siswa.
Wita memaparkan berbagai program persiapan yang akan dijalani siswa, meliputi orientasi studi dan lapangan, keamanan, leadership, pengetahuan dasar mata pelajaran, program kebahasaan, pembangunan karier dan kepribadian, keterampilan sosial, kegiatan pawai budaya, serta kegiatan olahraga dan kesamaptaan.
Terkait tata tertib, siswa diwajibkan bangun paling lambat pukul 04.30 WIB, dilarang membawa alat elektronik tanpa izin, serta wajib berada di kamar pada pukul 21.00 WIB. Mereka juga diizinkan menerima tamu pada waktu yang ditentukan, membersihkan kamar dan area asrama setiap hari, tidak diperbolehkan mengambil barang milik teman tanpa izin, menjaga kebersihan pribadi dan fasilitas bersama, wajib membersihkan dan merapikan tempat tidur, serta menghormati waktu istirahat teman asrama.
“Saya kemarin sudah menghimbau di grup agar siswa membawa barang seadanya, termasuk seragam akan dapat nantinya. Sementara ini seragam gratis untuk siswa masih dalam proses pengiriman,” ujar Wita, panggilannya.
Aizzatul Masruroh, salah satu guru SRMA 22 Malang yang mengajar Matematika dan Seni Tari, berharap sekolah ini dapat memutus rantai kemiskinan dan mengurangi beban keluarga. Sebelum bergabung dengan SRMA 22, Aizzatul berprofesi sebagai tutor freelance dan guru pengganti. Ia kini berstatus sebagai ASN P3K.
Senada dengan Aizzatul, Rizki Izzah Naditasari, guru seni tari, juga menyampaikan harapan yang sama. “Semoga program ini memutuskan rantai kemiskinan, dan semoga setelah ini juga lebih banyak lagi siswanya, dan kita juga bisa memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Program Nasional Berbasis Kemanusiaan: “Keluarga Nol Rupiah”
Yusmanu, PIC SR BPSDM Malang dari Dinsos Jatim, menegaskan komitmen program ini. Ia menyoroti bahwa wacana laptop gratis bagi setiap siswa bukan hanya janji kosong.
“Bahkan ada wacana setiap siswa di sekolah rakyat mendapat laptop gratis,” ujarnya, disambut tepuk tangan riuh dan acungan jempol dari para orang tua.
Yusmanu menjelaskan bahwa SRMA 22 merupakan sekolah berasrama (boarding school) yang berlokasi di fasilitas BPSDM Jatim, sehingga siswa mendapatkan makan tiga kali sehari. Program ini dirancang khusus dengan kurikulum yang fokus pada ekonomi dan pembangunan karakter.
“Ini pendidikan berkarakter yang diperbaiki, perubahan dari mindset yang biasa menjadi luar biasa. Mulai yang dia, orang tidak mampu kan biasa, adat-adatnya, terus kemudian yang biasa itu, itu yang harus dirubah dulu,” jelas Yusmanu.
Lebih lanjut, Yusmanu mengungkapkan bahwa seleksi siswa didasarkan pada tingkat kemiskinan, bukan pada kemampuan akademik, kesehatan, atau kepintaran. “Seleksi adalah yang paling miskin itu yang pertama,” tegasnya.
Program Sekolah Rakyat ini adalah inisiasi program baru dari Bapak Prabowo Subianto yang ditugaskan oleh Kementerian Sosial .”Termasuk internetnya di sini sudah luar biasa. Kemarin juga diperbaiki semua,” imbuhnya.
Selama tiga bulan pertama, fokus utama pendidikan adalah pada pembangunan karakter. “Tiga bulan itu paling penting karakternya. Belum ada pelajaran. Jangan berpikir nanti tidak diajari biologi, tidak diajari,” jelas Yusmanu, menegaskan bahwa kurikulum telah ditata oleh guru dan kepala sekolah.
Yusmanu juga menekankan pentingnya motivasi dari siswa dan orang tua. “Ini tinggal dorongan dari motivasi putra-putri dan motivasi orang tuanya saja yang kami minta dari Bapak-Ibu semua,” pesannya saat sesi pembekalan terhadap wali siswa SRMA 22 kota Malang.
SRMA 22 adalah sekolah resmi dengan nomor registrasi dari Kementerian Sosial Semarang. “Ini se-Indonesia baru 63. Tujuan utama Dinsos Jatim adalah pengentasan kemiskinan untuk Indonesia 2045, dengan menyiapkan generasi melalui jenjang pendidikan.
“Nanti anak-anak ini nanti di samping dilatih, diberikan ilmu dalam tatanan SMA. Pada saat nanti dilihat anak ini, namanya orang itu, nanti talent-nya akan dilihat, bekerja sama dengan Pak Ari Bin Anjar. Talent-nya dilihat anak ini, termasuk talent itu dilihat. Anak ini talent-nya ke mana? Apakah memang ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi? Apakah talent-nya mereka itu bekerja?” papar Yusmanu.
Program ini juga relevan dengan visi Jawa Timur sebagai pintu gerbang Nusantara. Dari 63 titik Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia, 12 diantaranya berada di Jawa Timur, menunjukkan antusiasme tinggi dari Prabowo dan Gubernur Jawa Timur.
Saat ini, SR di Jawa Timur memanfaatkan bangunan eksisting seperti BPSDM, PLK, dan Pare Kediri. Ke depannya, akan dibangun gedung baru di lahan seluas 6 hektare di beberapa kabupaten/kota.
“Ini sangat relevan dengan visi Indonesia Emas 2045. Jawa Timur mendapatkan 12 lokasi dari total 63 sekolah rakyat di seluruh Indonesia. Untuk Kota Malang, kami sudah siapkan lahan di Srigi, Kebonagung, untuk pembangunan sekolah tetap,” kata Yusmanu menutup sesi wawancara. [dan/beq]






