Lamongan (beritajatim.com) – Saat dirundung persoalan belum stabilnya harga rajungan dan lesunya pasar tujuan ekspor selama sekitar 8 bulan terakhir, kini nelayan tangkap rajungan di Pantura Lamongan berupaya untuk bangkit dari keterpurukan.
Para nelayan tersebut saat ini berpindah haluan. Dari yang awalnya menangkap rajungan, kini memilih untuk menangkap udang. Sehingga, bagi nelayan tradisional setempat kini udang menjadi primadona baru.
Diketahui, hingga kini harga rajungan masih dalam kondisi yang memilukan. Meski harganya sedikit berangsur naik selama sebulan terakhir, namun harga rajungan dinilai belum benar-benar pulih. Tercatat harga rajungan kini berada di angka Rp45 ribu dari yang semula di harga Rp30 ribu.
“Udang sekarang menjadi primadona tangkapan nelayan tradisional Pantura Lamongan. Untuk sementara, mereka beralih untuk menangkap udang putih dari yang mulanya menangkap rajungan. Hal itu lantaran harga udang sekarang cukup tinggi,” ujar salah satu nelayan di Desa/Kecamatan Paciran, Abdullah Bahris, Selasa (27/9/2022).
Bahris menyebut, rata-rata nelayan tradisional di Paciran mampu menangkap udang sekitar 5 sampai 10 kilogram. Sedangkan untuk harga udang putih itu, saat ini mencapai harga Rp120 ribu per kilogram.
“Alhamdulillah, hasil tangkapan udang dari nelayan sini lumayan along (melimpah). Sehingga, hal ini juga cukup melegakan perekonomian nelayan Paciran,” ungkap Bahris, di sela-sela aktivitasnya usai menangkap udang.
Sementara itu, Ketua Rukun Nelayan Paciran, Muchlisin Amar membenarkan bahwa dengan tingginya harga udang, saat ini banyak nelayan setempat yang memilih untuk beralih menangkap udang.
“Beberapa hari ini banyak nelayan yang beralih dari memburu rajungan menjadi menebar jaring gondrong untuk menangkap udang, karena harga udang cukup tinggi,” kata Muchlisin.
Diungkapkan Muchlisin, diversifikasi alat tangkap yang dimiliki oleh nelayan tradisional Pantura membuat mereka tetap bisa bertahan untuk melaut. Sehingga, setiap hari para nelayan setempat pun bisa tetap menafkahi anak istrinya di rumah, serta bisa menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
“Dengan banyaknya jenis alat tangkap seperti bubu, jaring cumi, jaring bringsang, alat menangkap rebon, jaring gondrong, alat tangkap khusus udang putih, yang dimiliki oleh nelayan, hal ini memungkinkan mereka untuk tetap bisa melaut sesuai musim,” tuturnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”nelayan-lamongan”]
Secara terpisah, Kasat Polair Polres Lamongan AKP Erni Sugiastuti mengatakan, beralihnya para nelayan untuk menangkap udang ini dinilai menjadi pilihan yang tepat di tengah anjloknya harga rajungan dan naiknya harga BBM.
“Para nelayan di dalam mensikapi turunnya harga rajungan dan naiknya harga BBM dengan beralih ke alat tangkap udang ini sudah tepat. Harga udang yang cukup tinggi ini tentu bisa menambah semangat para nelayan untuk bekerja dan melaut,” bebernya.
Oleh karenanya, pihaknya juga berharap, nelayan tradisional di Pantura Lamongan bisa terus bangkit. Dengan begitu, perekonomian dan kesejahteraan nelayan pun bisa kembali bergeliat.
“Kami salut atas perjuangan dan upaya dari nelayan Pantura Lamongan. Semoga ketahanan pangan nelayan juga tetap kuat dan terjaga,” tandas AKP Erni, saat mengunjungi ibu-ibu pengolah hasil tangkapan, yang tergabung dalam Persaudaraan Ibu Nelayan (PIN) Desa Paciran. [riq/but]






