Pasuruan (beritajatim.com) – Sektor industri mebel di Kota Pasuruan kini tengah menghadapi tekanan berat akibat melambungnya harga berbagai bahan baku kimia untuk proses penyelesaian akhir. Kenaikan harga yang terjadi pada komponen penting seperti plitur dan tiner membuat para pelaku usaha kecil menengah mulai kesulitan menjaga kelancaran operasional mereka.
Kondisi pasar yang tidak menentu ini memicu kekhawatiran akan terjadinya penurunan daya saing produk furnitur lokal di kancah nasional. Sejumlah bengkel kerja bahkan mulai membatasi penerimaan pesanan baru untuk menghindari kerugian finansial yang lebih besar akibat biaya produksi yang tidak terkendali.
Pengrajin mebel setempat, Lukman, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan pendukung produksi ini berlangsung sangat cepat dan sulit diprediksi. “Kalau dipaksakan produksi terus bisa rugi, jadi kadang lebih baik ditunda daripada tidak balik modal,” ujarnya.
Dampak dari lonjakan modal ini membuat keuntungan bersih para pengusaha merosot tajam karena mereka tidak bisa menaikkan harga jual secara drastis kepada pelanggan. Ketidakseimbangan antara biaya operasional dan daya beli masyarakat memaksa para pengrajin untuk lebih selektif dalam memilih bahan baku alternatif yang lebih terjangkau.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pasuruan mengonfirmasi adanya kenaikan harga yang bervariasi di tingkat distributor, mulai dari bahan pelarut hingga zat pewarna kayu. Tim pemantau pasar melaporkan bahwa lonjakan tertinggi terjadi pada komoditas spirtus dan tiner dalam kemasan drum yang naik hampir dua kali lipat.
Kabid Perdagangan Disperindag Kota Pasuruan, Mulyono, menjelaskan bahwa fluktuasi harga ini sangat dipengaruhi oleh pasokan barang dari luar daerah serta dinamika pasar global. “Sebagian bahan berasal dari luar negeri, jadi ketika pemasok menaikkan harga atau stok terbatas langsung berpengaruh ke pasar lokal,” jelasnya mengenai penyebab kenaikan tersebut.
Beberapa komponen lain seperti lem dan cat pelapis juga mengalami penyesuaian harga secara bertahap sejak awal bulan ini. Meskipun harga kain dan busa relatif masih stabil, namun tren kenaikan pada bahan kimia tetap menjadi beban utama yang paling dirasakan oleh industri kreatif kayu di wilayah ini.
Pemerintah daerah diharapkan segera mencari solusi untuk menjaga stabilitas pasokan bahan baku agar industri kebanggaan Pasuruan ini tetap bertahan. Tanpa adanya intervensi yang tepat, dikhawatirkan banyak unit usaha mebel rumahan yang akan gulung tikar dalam beberapa bulan ke depan. (ada/kun)






