Ringkasan Berita:
- Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dijadwalkan menghadiri bedah buku KH Wahab Chasbullah di Pondok Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjelang Muktamar ke-35 NU.
- Acara tersebut menjadi momentum menggali pemikiran Mbah Wahab sekaligus mendengar pandangan calon ketua umum PBNU terkait warisan perjuangan pendiri NU.
- KH Wahab Chasbullah dikenal sebagai tokoh penting NU yang berperan dalam pendidikan pesantren, pergerakan nasional, politik Islam, dan hubungan Islam dengan nasionalisme Indonesia.
Jombang (beritajatim.com) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dijadwalkan menghadiri acara bedah buku pemikiran dan biografi pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Wahab Chasbullah di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Sabtu (15/8/2026).
Kehadiran Gus Yahya dalam acara tersebut menjadi bagian dari agenda menyambut Muktamar ke-35 NU sekaligus memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia. Forum ini juga menjadi momentum untuk menggali kembali pemikiran Mbah Wahab, terutama menjelang pemilihan kepemimpinan NU dalam muktamar yang digelar pada 27 hingga 31 Agustus 2026.
Cucu pendiri NU KH Wahab Chasbullah, KH Solachul Aam Wahib Wahab atau Gus Aam, menyampaikan bahwa Tambakberas sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU ingin menghadirkan ruang dialog mengenai gagasan dan pemikiran para calon ketua umum PBNU terhadap warisan pemikiran Mbah Wahab.
“Tambakberas kan tuan rumah Muktamar, jadi kita ingin mendengar langsung pemikiran calon ketua Nu ke depan soal Mbah Wahab itu seperti apa,” jelasnya Gus Aam, Kamis (13/8/2026), dalam siaran persnya.
Selain Gus Yahya, pihaknya juga mengundang sejumlah calon ketua umum PBNU lainnya, seperti KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, serta calon lainnya. Namun, hingga saat ini baru Gus Yahya yang telah mengonfirmasi kehadiran dalam acara tersebut.
Pendiri dan Penggerak NU
Bedah buku ini mengangkat pemikiran dan perjalanan hidup KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu tokoh penting dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama. Mbah Wahab dikenal tidak hanya sebagai pendiri NU, tetapi juga sebagai ulama yang memiliki peran besar dalam pendidikan pesantren, pergerakan nasional, politik, diplomasi, serta gagasan mengenai hubungan Islam dan nasionalisme Indonesia.
KH Abdul Wahab Chasbullah lahir di Tambakberas, Jombang, pada 31 Maret 1888 dari pasangan KH Hasbullah Said dan Nyai Latifah. Tumbuh di lingkungan pesantren, Mbah Wahab sejak kecil mendapatkan pendidikan agama sebelum melanjutkan pengembaraan keilmuan ke sejumlah pesantren di Jawa.
Ia tercatat pernah belajar di Pesantren Langitan, Mojosari, Tawangsari, Kademangan Bangkalan, Branggahan Kediri, hingga Tebuireng Jombang. Setelah itu, ia memperdalam ilmu agama di Makkah dan berguru kepada sejumlah ulama besar, di antaranya Syekh Mahfudz at-Tirmasi dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.
Perjalanan panjang tersebut membentuk sosok KH Wahab Chasbullah sebagai ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus wawasan sosial dan politik yang luas.
Dunia Politik
Dalam dunia politik, Kiai Wahab memandang politik sebagai instrumen perjuangan untuk kepentingan umat dan bangsa. Ia aktif dalam berbagai organisasi politik serta berperan dalam dinamika politik Islam Indonesia, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan.
Kemampuan diplomasi menjadi salah satu ciri utama perjuangan Kiai Wahab. Ia dikenal sebagai tokoh yang mampu menjembatani kepentingan agama dan negara, dengan menggabungkan pemahaman fikih, ushul fikih, serta kemampuan membaca kondisi sosial politik.
Di lingkungan NU, KH Wahab Chasbullah dikenal sebagai figur penggerak organisasi. Ia tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga terlibat langsung dalam membangun jaringan, mengorganisasi gerakan, melakukan negosiasi, dan menghadapi berbagai tantangan zaman.
Karena peran tersebut, Kiai Wahab sering disebut sebagai motor penggerak NU atau Panglima NU. Jika KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai simbol otoritas keulamaan dan fondasi keagamaan NU, maka KH Wahab Chasbullah dikenal sebagai organisatoris dan penggerak yang membawa NU berkembang menghadapi perubahan zaman.
KH Abdul Wahab Chasbullah wafat pada 29 Desember 1971. Ia meninggalkan warisan besar berupa tradisi keilmuan, jaringan pesantren, organisasi NU, serta gagasan tentang hubungan Islam dan Indonesia yang terus menjadi bagian penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama. [suf]






