Ringkasan Berita:
- Ketua Tanfidziyah PBNU, Ma’shum Faqih atau Gus Ma’shum, menyatakan siap memperjuangkan keadilan bagi M. Munir Thowil, kepala madrasah di Lamongan.
- Munir merupakan alumni Pondok Pesantren Langitan dan disebut sebagai bagian dari keluarga besar pesantren tersebut.
- Gus Ma’shum meminta guru, santri, dan masyarakat menahan diri serta mengawal perkara melalui jalur hukum.
- Ia juga berencana mengusulkan evaluasi regulasi pendidikan kepada pemerintah pusat untuk memperkuat keselamatan dan perlindungan guru.
Lamongan (beritajatim.com) – Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ma’shum Faqih atau Gus Ma’shum, menyatakan siap memperjuangkan keadilan bagi M. Munir Thowil, kepala madrasah di Desa Meluntur, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, yang menjadi korban penganiayaan oleh anggota TNI aktif yang bertugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) di wilayah setempat.
Gus Ma’shum, yang juga merupakan anggota Majelis Masayikh Pondok Pesantren Langitan, menegaskan akan mengupayakan bantuan secara maksimal bagi Munir. Menurutnya, Munir merupakan alumni Pondok Pesantren Langitan sehingga pihaknya merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan dukungan.
“Insyaallah saya pribadi akan melakukan dengan maksimal membantu, mengupayakan, dan memperjuangkan apa yang terjadi kepada teman kita, saudara M. Munir,” kata Gus Ma’shum melalui rekaman video yang tersebar di kalangan keluarga besar NU.
Gus Ma’shum menegaskan, Munir merupakan bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Langitan. Karena itu, ia berkomitmen membantu korban dalam memperjuangkan haknya untuk memperoleh keadilan.
“Ini adalah santri saya. Pasti saya akan membela dan membantu. Teman-teman semua juga punya kewajiban untuk memberikan support,” ujarnya.
Gus Ma’shum menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima informasi mengenai penanganan perkara tersebut oleh Polres Lamongan, Kodim 0812/Lamongan, hingga Kodam V/Brawijaya. Ia berharap proses hukum berjalan sesuai ketentuan dan pihak yang terbukti bersalah mendapatkan sanksi setimpal.
“Karena insyaallah dari pihak Polres Lamongan dan Kodim, Kodam Brawijaya Jawa Timur sudah mengambil tindakan yang tegas untuk memberikan sanksi atau menghukum pihak yang melakukan tindakan kekerasan tersebut,” tuturnya.
Menurut Gus Ma’shum, upaya memperjuangkan keadilan bagi Munir perlu dilakukan dengan tetap mengedepankan jalur hukum. Ia meminta para guru, santri, dan berbagai elemen masyarakat yang menunjukkan solidaritas agar menahan diri serta tidak mudah terpancing isu yang belum jelas kebenarannya.
“Saya berharap semua teman-teman, baik dari solidaritas guru maupun lembaga-lembaga lain, untuk menahan diri. Cukup kita doakan dan kita sudah melakukan ikhtiar yang maksimal untuk mencari keadilan, supaya guru-guru yang lain juga mendapatkan keamanan dan perlindungan dari negara ini,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa guru dan santri harus tetap menjadi teladan bagi murid-muridnya. Solidaritas terhadap korban, menurutnya, perlu disalurkan melalui langkah yang tidak memicu persoalan baru atau memperkeruh situasi.
“Jangan sampai kita sebagai santri dan pengajar terpancing isu-isu liar, sehingga mengedepankan emosi dan tidak mengedepankan akal sehat. Kita harus menjadi teladan bagi murid-murid dan santri kita semua,” tegasnya.
Selain menyatakan dukungan terhadap Munir, Gus Ma’shum menyebut pihaknya akan mengusulkan evaluasi sejumlah regulasi pendidikan kepada pemerintah pusat. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat perlindungan terhadap guru saat menjalankan tugasnya.
“Insya Allah ada hikmahnya dari semua yang terjadi hari ini. Nanti kita juga akan mengusulkan kepada pemerintah, khususnya pemerintah pusat, untuk mengevaluasi beberapa peraturan yang berkaitan dengan pendidikan, sehingga para guru bisa terjamin keselamatannya dan terlindungi dalam melaksanakan tugas,” jelasnya. [fak/beq[






