Lamongan (beritajatim.com) – Halaqah Ulama Nasional Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) digelar di Ponpes Sunan Drajat Lamongan dalam rangka menyambut peradaban baru,
Halaqah ini diikuti oleh 500 kiai-nyai yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Halaqah ini bertajuk ‘Menyambut Peradaban Baru, Menguatkan Pesantren dan Revitalisasi Kitab Kuning’.
Lalu, apakah halaqah ini juga membahas peta dan sikap politik PBNU jelang Pemilu 2024? Dalam hal ini, H. Saifullah Yusuf selaku Sekjen PBNU memberikan tanggapannya.
“Enggak ada, kalaupun ada (pembahasan Pemilu) mungkin tidak langsung,” ungkap Gus Ipul, sapaan akrab H. Saifullah Yusuf, saat menghadiri halaqah di Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Rabu (12/7/2023).
Gus Ipul menjelaskan, pembahasan tentang Pemilu 2024 ini bisa jadi muncul, hanya saja tidak langsung identik dengan politik praktis dan soal kekuasaan.
“Kalau pembahasan berkaitan dengan Pemilu bisa jadi. Namun yang dibahas itu bagaimana memilih pemimpin, bagaimana kriterianya, serta bagaimana menghadapi perbedaan pilihan. Kalau toh ada perbedaan tentu tetap dibahas, tapi tidak berkaitan dengan Pemilunya secara langsung,” terangnya.
Baca Juga: Halaqah Ulama Nasional di Lamongan, Gus Ulil: Pesantren Diminta Rekontekstualisasi Kitab Kuning
Ditegaskan oleh Gus Ipul, NU adalah organisasi yang tidak bisa diidentikkan dengan salah satu partai politik (parpol) tertentu.
“Tidak (tidak identik dengan partai tertentu), kalau NU ya NU, urusannya dengan menjawab masalah atau tantangan hari ini, yang bersumber dari kitab kuning karya para ulama,” tegasnya.
Gus Ipul juga menuturkan, Halaqah Ulama Nasional ini untuk membangun wacana-wacana yang lebih produktif dalam membangun peradaban, termasuk bagaimana memanfaatkan kemajuan teknologi untuk hal-hal yang lebih positif.
“Halaqah ini menindaklanjuti program-program PBNU, kaitannya dengan masalah-masalah yang harus dijawab, menggunakan pendekatan turats atau kitab kuning, sehingga menjadi referensi bersama,” tuturnya.
Baca Juga: Mahfud MD: Peran Kiai dan Santri Sejak Awal Negara Berdiri Hingga Sekarang Sangat Besar
Lebih lanjut, Gus Ipul menyampaikan bahwa halaqah menjadi wadah bagi para ulama untuk silaturahmi dan menelaah turats (kitab kuning) yang kemudian direvitalisasi dan ditafsirkan kembali secara lebih mendalam guna menyambut tatanan dunia baru.
Harapannya, hasil dari halaqah ini dirangkum jadi satu, kemudian dijadikan kesimpulan dan keputusan bersama.
“Kiai-kiai berkumpul untuk merumuskan manhaj revitalisasi kitab kuning agar dapat menjawab problematika
tantangan masa kini dan mendatang. Mewujudkan masyarakat dunia yang lebih rukun,” tutupnya.[riq/ted]






