Jember (beritajatim.com) – Sejumlah guru dan siswa berunjuk rasa di halaman SMA Muhammadiyah 3 di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (30/10/2025) sore. Mereka memprotes pelantikan Sony Bachtiar menjadi kepala sekolah kembali untuk periode kedua.
Guru dan siswa berunjuk rasa setelah jam sekolah usai, sekitar pukul 16.00 WIB. Kurang lebih 40 siswa pria dan perempuan berteriak-teriak dan membentangkan poster penolakan terhadap Sony.
Mereka kemudian bergerak ke aula di lantai dua untuk membubarkan pelantikan yang disaksikan sejumlah petinggi Muhammadiyah Jember. Abdul Ghafur, seorang guru dan mantan anggota DPRD Jember, sempat bersimpuh dan memegang tangan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jember Aminullah Elhady, meminta agar pelantikan dibatalkan.
Ghafur juga sempat berorasi untuk menyemangati guru dan siswa. “Jangan takut pada manusia. Taatlah pada aturan Allah, Rasulullah, dan aturan persyarikatan Muhammadiyah,” katanya.
Sudahri, guru agama Islam dan bahasa Atab, mengatakan, aksi itu ditujukan kepada pengurus Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jember.
Kewenangan pemilihan kepala SMA Muhammadiyah 3 berada di tangan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.
“Kami menolak pelantikan, karena ada proses yang abnormal, tidak seperti biasanya. Padahal proses itu sudah selesai, tapi kemudian diskenario ada proses lagi, sehingga ada kecurigaan-kecurigaan,” kata Sudahri.
Sudahri menyatakan aksi unjuk rasa tersebut justru ingin menyelamatkan SMA Muhammadiyah 3. “Kalau kita berbicara tentang pendidikan, kita ini orang-orang pendidikan, menginginkan ke depan lembaga ini menjadi lebih maju, dengan dipimpin orang-orang yang legitimate melalui proses yang normal,” katanya.
Selama Sony Bachtiar menjadi kepala sekolah sejak 2021, Sudahri mengatakan, di antara guru tidak akur. “Di internal guru-guru terjadi konflik, terjadi ketidakharmonisan. Bagaimana lembaga ini bisa maju kalau terjadi ketidakharmonisan?” katanya.
“Tidak ada guru-guru yang ingin sekolah ini hancur, bahkan tutup karena itu bunuh diri. Kita menginginkan sekolah ini menjadi maju ke depan,” kata Sudahri.
Selain itu, menurut Sudahri, terjadi penekanan terhadap guru-guru tidak tetap dengan membuat status tenaga alihdaya atau outsourcing. “Padahal di Muhammadiyah tidak ada itu (outsourcing). Yang ada di Muhammadiyah adalah guru tetap persyarikatan atau yayasan dan guru tidak tetap,” katanya.
Sudahri menyebut itu kebijakan personal Sony sebagai Kepala SMA Muhammadiyah 3. “Ini kan kebijakan personal seorang pimpinan yang ingin mengendalikan bawahannya yang tidak mempunyai kepastian dengan kekuasaannya,” katanya.
Menurut Sudahri, ada informasi bahwa siswa yang ikut unjuk rasa akan dikeluarkan dari sekolah. “Padahal aspirasi itu adalah hak untuk disampaikan. Mestinya kita berdiri di atas norma-norma yang profesional,” katanya.
Sementara itu, Sony Bachtiar menyebut aksi unjuk rasa itu bagian dari dinamika internal. “Ada yang berusaha memaksakan kehendak untuk menjadi kepala sekolah,” katanya.
Sony juga membantah semua tuduhan Sudahri. “Semua tuduhan itu tidak benar,” katanya.
Setelah terjadinya aksi unjuk rasa, Sony akan segera melakukan evaluasi. “Nanti kita akan pikirkan tindak lanjut ke depannya,” katanya.
Apakah akan ada sanksi untuk guru dan siswa yang berunjuk rasa? “Nanti akan ada mekanisme internal yang berjalan,” kata Sony. Pemberlakuan mekanisme internal itu juga akan melibatkan Pengurus Daerah Muhammadiyah Jember.
Sebagai penanggung jawab SMA Muhammadiyah 3, Sony meminta maaf karena tidak dapat mengantisipasi atau mengetahui hal-hal seperti itu. “Kami merasa selama ini sudah selalu berkomunikasi secara terbuka, baik kepada guru maupun kepada siswa,” katanya.
Sony mengaku secara rutin mendengarkan keluhan dan aspirasi lainnya. “Sehingga ketika terjadi hal seperti ini, ini di luar perkiraan kami,” katanya. [wir]






