Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Agus Wiyono menggagas pemetaan SMK berbasis potensi wilayah untuk memperluas serapan lulusan.
Pemetaan wilayah ini dilakukan agar lulusan SMK dapat terserap industri secara optimal. Prof Agus menilai jika pendidikan SMK, khususnya pendirian kompetensi keahlian masih berbasis kompetensi keahlian prestise.
Menurutnya, hal itu masih didasarkan pada tingginya animo masyarakat. Sebut saja, jika SMK membuka kompetensi keahlian multimedia, komputer dan jaringan, atau rekayasa perangkat lunak, animo masyarakat (pada PPDB) untuk jurusan ini akan tinggi.
“Padahal jika dilihat data BPS mulai tahun 2020-2023 tingkat pengangguran SMK tertinggi. Kesimpulannya ada sesuatu, yaitu kompetensi keahlian yang dibuka SMK tidak sesuai DUDI (Dunia Usaha Dunia Industri),” kata Prof Agus, Jumat (29/12/2023).
Ia menambahkan, jika hal ini diteruskan tingkat pengangguran SMK akan semakin tinggi, dan tujuan pemerintah tidak tercapai. “Apalagi, tahun 2030 Indonesia mengalami bonus demografi tertinggi, di mana usia produktif di tingkat tertinggi,” ungkapnya.
Oleh karena itu, pemerintah harus menyiapkan solusi lulusan siap kerja. Di sisi lain, Prof Agus menilai seluruh wilayah di Jatim memiliki wisata unggulan yang masih digarap masyarakat daerah. Sedanhkan kolaborasi dengan SMK belum optimal.
Misalnya saja di wilayah Sumenep, tepatnya di Kecamatan Bonto dan Pragaan yang merupakan penghasil rumput laut berkualitas yang diekspor ke Jepang dan negara-negara Eropa.
Hanya saja, produk tersebut hanya dijual berdasarkan berat ton. Karena belum ada SMK yang membuka kompetensi keahlian pengolahan rumput laut.
“Saya berharap ada kompetensi keahlian yang bisa mengolah produk tersebut menjadi bahan kosmetik, atau makanan siap saji, dan berbagai olahan lain. Yang tentu saja ini akan berdampak pada persaingan nilai jual produk dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Dalam merealisasikan SMK berbasis potensi wilayah ini, Prof Agus menyarankan untuk mengajak alumni lulusan SMK untuk dapat membantu masyarakat atau orang tua langsung tanpa mencari kerja luar di daerah.
Berdasarkan kajian, setiap daerah telah memiliki analisis LQ (location Question) untuk melihat potensi masing-masing daerah. Nah, potensi ini yang digarap dalam SMK yang dibuka melalui kompetensi keahliannya.
“Jangan membuka kompetensi yang prestise. Tapi lulusan tidak terserap industri. SMK kita belum berbasis wilayah. Tetapi masih berbasis prestise dan animo. Ini menjadi solusi bisa terserap di APK (amgka partisipasi kasar) untuk lulusan SMK-SMA tinggi. Tapi tidak menjadi solusi menghadapi tren bonus demografi,” tuturnya.
Ia menambahkan, terkait SMK berbasis wilayah ini, belum ada daerah yang mendirikan kompetensi keahlian tersebut. Padahal, jika hal ini dikaji dan dioptimalkan akan memberikan solusi pada tingkat pengangguran tinggi dari lulusan SMK.
Selain itu, juga akan meningkatkan hasil dan produktifitas termasuk impact kesejahteraan masyarakat dan pendapatan perkapita daerah. “Ini memang berupa konsep. Tentu untuk realisasi konsep ini ada beberapa hal yang harus dianalisa dan dibidik. Dianalisis lokasi sekolah, diperhatikan juga aksesbility,” katanya.
Kemudian, pemangku pendidikan seperti Kepala Bidang Pendidikan dan Kejuruan dan Perguruan Tinggi juga harus dibidik untuk sosialisasi dan ‘diracuni’ mindset pengambilan kebijakan karena memang dibutuhkan.
Prof Agus mengungkapkan bahwa SDM bisa kolaborasi dengan perguruan tinggi yang memiliki teknologi pertanian. Konsep ini berdasarkan instruksi Presiden No 9 tahun 2016 bahwa harus ada revitasliasasi SMK dan meningkatkan SDM lulusan SMK. [ipl/suf]






