Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Prof Agung Purniawan mengembangkan implan biodegradable untuk dunia kedokteran. Agung mengungkapkan, pengobatan untuk patah tulang lazim menggunakan material non-biodegradable seperti stainless steel dan paduan titanium.
Kedua jenis material ini kerap dipilih karena memiliki kekuatan mekanik, ketahanan terhadap korosi, dan tidak bereaksi terhadap jaringan tubuh. “Namun setelah tulang baru tumbuh maka memerlukan operasi pengangkatan implan yang dapat menghadirkan risiko lain,” ungkap Agung, ditulis Senin (18/12/2023).
Untuk mencegah kemungkinan itu, penggunaan implan yang dapat terdegradasi (biodegradable) dan terabsorbsi (bioabsorbable) menjadi alternatif lain.
Penggunaannya sendiri dapat sekaligus mempercepat proses penyembuhan karena menyuplai zat yang dibutuhkan oleh tubuh. “Paduan berbasis magnesium cocok digunakan karena zat tersebut juga dibutuhkan tulang, namun laju degradasinya terlalu cepat,” katanya.
Dampak dari degradasi itu bisa mengurangi sifat mekanik implan dalam menahan beban sebelum tumbuh tulang baru. Dari situ, Agung mengembangkan teknologi rekayasa permukaan untuk mengontrol laju degradasi material.
“Metode Plasma Electrolytic Oxidation (PEO) menciptakan lapisan pasif yang dapat mengurangi laju degradasi hingga lebih dari 90 persen dibandingkan tanpa adanya perlakuan,” tuturnya.
Tak hanya itu, ia juga meneliti penggunaan material komposit untuk biodegradable implan. Bahan ini lebih mudah untuk dimanufaktur serta dipadukan dengan zat-zat lain yang dibutuhkan oleh pertumbuhan tulang. “Mineral ataupun zat yang berguna untuk proses penyembuhan lebih mudah digabungkan ke dalam implan ketimbang paduan logam,” paparnya.
Agung melanjutkan, penelitian ini dilakukan untuk memodifikasi sifat kimia, fisik, dan mekanis dari material ini. Di antaranya seperti upaya modifikasi lapisan permukaan dan interaksi antarpenyusun material. “Daya lekat material komposit dapat diperkuat dengan menambahkan senyawa 3-aminopropyltriethoxysilane (APTES), sehingga meningkatkan sifat mekanik dan umur pakainya,” tambahnya.
Agung berharap, produk-produk penelitian dari ITS dapat disambut stakeholder maupun peneliti lain untuk dikembangkan. Ia juga berharap agar penggunaan teknologi hasil penelitian tersebut dapat diterapkan pada fasilitas-fasilitas yang ada di kampus ITS. “Akan membanggakan bila sistem portal hingga pengolahan limbah bisa berasal dari karya tangan-tangan sivitas ITS,” tuturnya. [ipl/kun]






