Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar dari Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS, Prof Darminto dan kelompok risetnya berhasil melakukan fabrikasi komponen semikonduktor sel surya dengan memanfaatkan biomassa.
Darminto menyebut, karbon amorf adalah material semikonduktor pada sel surya yang berfungsi sebagai komponen pengubah energi matahari menjadi arus listrik. Umumnya, material tersebut tersusun oleh grafit yang merupakan produk pertambangan, sehingga ketersediaannya terbatas.
Nah, dengan demikian perlu adanya karbon amorf berbasis grafena dengan memanfaatkan sumber daya terbarukan. Apalagi, energi yang berkelanjutan, terbarukan, dan ramah lingkungan kini sedang masif untuk dikembangkan.
Salah satu alternatif tersebut yakni dengan memanfaatkan biomassa atau bahan organik tumbuhan. Darminto menerangkan, bahwa inovasi ini memanfaatkan nira dari pohon lontar yang dikonversi menjadi serbuk karbon.
Kemudian, serbuk karbon dilarutkan dan dibentuk menjadi sebuah lapisan tipis. “Lapisan tipis tersebut yang disebut karbon amorf berbasis grafena,” ujar pria asal Tulungagung tersebut, Jumat (7/7/2023).
Ia menambahkan, bahwa karbon amorf berbasis grafena sendiri memiliki sejumlah keunggulan seperti bahan baku ramah lingkungan, harga bahan baku yang lebih terjangkau, serta proses pengolahan yang lebih sederhana.
Sedangkan pada implementasinya, karbon amorf berbasis grafena ini juga diterapkan dalam berbagai aspek teknologi seperti superkapasitor, bahan elektroda baterai, komponen berbagai sensor, dan pelapis antiradar.
Perangkat karbon amorf berbahan biomassa gagasan Darminto dan tim tersebut kini sedang dalam tahap pengembangan lebih lanjut. Ia mengungkapkan, nilai efisiensi sel fotovoltaik atau sel surya yang dihasilkan masih dalam angka 0,1 persen.
Itu, menurutnya terpaut jauh dengan bahan amorf jenis silikon yang sudah mencapai di atas 10 persen. Sehingga, hal itu menjadi tantangan besar. “Hal ini menjadi tantangan besar dalam meningkatkan nilai efisiensi karbon amorf,” akunya.
Darminto mengatakan bahwa nilai efisiensi yang dihasilkan pada karbon amorf berbasis grafena ini sangat berpotensi ditingkatkan agar setara dengan sel surya yang ada di pasaran. “Keterbatasan fasilitas di Indonesia menjadi kendala kami, sehingga perlu bantuan mitra dari luar Indonesia,” ujarnya. [ipl/kun]
BACA JUGA:






