Jember (beritajatim.com) – Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) berburu suara pemilih dari kalangan generasi Z (Gen Z) untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dalam pemilu dengan menggunakan game online dan aplikasi tiktok.
Dalam sejumlah survei, perolehan suara PPP terpaut tipis dengan ambang batas bawah elektoral. Bahkan di beberapa survei, PPP diramalkan bakal gagal menembus ambang batas minimal yang ditentukan undang-undang alias tak memiliki wakil di DPR RI.
Ketua GPK Jember Ikbal Wilda Fardana tetap percaya diri menghadapi pemilu mendatang. “Tentunya kami mulai dari kemarin sudah berkonsolidasi sampai tingkat bawah. Insyaallah kami sudah siap untuk memenangkan PPP di Kabupaten Jember,” katanya.
GPK adalah organisasi sayap PPP. “Kami etelase partai. Kami buktikan dengan beberapa kader GPK okut berkontestasi di Pemilu 2024,” kata Ikbal.
“Meski PPP identik dengan partai orang tua, di dalam GPK adalah anak muda. Jadi untuk menggaet kalangan muda, kami bisa mengadakan sejumlah kegiatan yang jadi tren anak muda sekarang seperti lomba tiktok pemilu atau lomba game dan sebagainya,” kata Ikbal.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang PPP Jember Madini Farouq sempat mengatakan, target partainya adalah sepuluh kursi DPRD Jember. Tren kursi PPP cenderung mengalami kenaikan dari tiga kursi pada Pemilu 2014 menjadi lima kursi DPRD Jember.
PPP Jember akan bergerak dengan melibatkan semua potensi, termasuk organisasi sayap yang dimiliki dan jaringan-jaringan kultural. “Kami akan berupaya menjaga pemilih tradisional sekaligus menggaet pemilih milenial,” kata Madini.
Menurut Madini, banyak anak muda yang bergabung dengan PPP. “Di samping lima orang anggota Fraksi PPP kembali mencalonkan diri. Dengan komposisi ini, insyaallah kami harap membuat target itu tercapai,” katanya.
Sementara itu, pengamat komunikasi politik Universitas Jember Muhammad Iqbal mengatakan, tak mudah menggaet suara pemilih dari kalangan generasi Z atau zilenial. “Karakter zilenial ini unik dan memerlukan perhatian khusus sekaligus serius. Unik lantaran umumnya mereka cenderung apatis masa bodoh, bahkan mudah ragu terlebih soal preferensi sikapnya pada urusan politik,” katanya, Minggu (28/5/2023).
Namun generasi ini juga cenderung rasional, memiliki kemampuan multitasking, ingin serba instan, meski sederhana .”Umumnya kelompok zilenial ini potensial menjadi swing voters, pemilih mengambang, ketimbang strong voters, pemilih loyal,” kata Iqbal.
Iqbal tidak yakin hidangan game online dan konten aplikasi media sosial bakal mampu mengubah sikap pilihan zilenial. “Rasanya bukan dinilai rasional oleh zilenial, malah dianggap para elit makin bengal dan membual. Zilenial ini sangat butuh suguhan sangat rasional agar makin yakin dengan pilihan politiknya,” katanya.
Arif Prio Wicaksono, Koordinator Politica Research and Consulting (PRC) Jawa Timur, menyebut langkah GPK Jember hanya formalitas biasa. “Saya tidak yakin akan berpengaruh signifikan untuk menaikkan suara PPP di kalangan generasi Z,” katanya.
“Penggunaan media sosial terutama tiktok dan game online untuk generasi Z, terutama pemilih pemula, hanya efektif untuk memperkenalkan partai saja. Saya belum pernah menemukan itu akan berpengaruh langsung terhadap elektabilitas partai. Jadi kalau targetnya hanya untuk memperkenalkan popularitas PPP kepada gen Z, maka itu mungkin bisa jadi satu opsi yang memang harus dilakukan,” kata Arif.
Ini berbeda dengan pemilihan kepala daerah. “Penggunaan media sosial efektif untuk mendongkrak popularitas maupun elektabilitas.” kata alumnus Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Jember ini.
Generasi Z memang ceruk suara besar. Namun, menurut Arif, sampai hari belum ada partai yang mampu mengakumulasikannya jadi suara. “Dalam konteks pilihan partai, gen Z ini cenderung susah sekali untuk diarahkan dan diajak memilih. Mereka adalah pemilih paling rasional yang seringkali cenderung apatis terhadap partai,” kata Arif. [wir]






